Ekonomi Kelangsungan Hidup Negara-Negara Kecil: Bagaimana Negara-Negara Kecil Eropa Membangun Kekuatan Ekspor

Oleh Irwan Iskandar, MA

Sebuah Teka-Teki yang Layak Dipecahkan

Ada sebuah pertanyaan yang telah mengganggu selama berminggu-minggu. Sebagai dosen Hubungan Internasional di Universitas Riau yang berspesialisasi dalam ekonomi politik, ia telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari bagaimana negara-negara tumbuh, bersaing, dan terkadang goyah. Tetapi data di hadapannya menceritakan kisah yang tampaknya hampir terbalik.

Mengapa negara-negara terkecil di Eropa secara konsisten mengungguli negara-negara tetangganya yang lebih besar?

Sementara Duta Besar Pribadi telah melukiskan gambaran yang jelas tentang manuver diplomatik dan posisi strategis, ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi, sesuatu yang melampaui kebijakan luar negeri yang cerdas dan menyentuh fondasi bagaimana negara-negara ini mengatur perekonomian mereka.

Negara-negara kecil tidak hanya menjadi diplomat yang cerdas. Mereka mengejar industrialisasi yang agresif. Yang terjadi selanjutnya adalah kelas master dalam strategi ekonomi, disampaikan melalui angka-angka yang menceritakan kisah yang lebih menarik daripada pidato politik mana pun.

 

Angka-Angka yang Mengubah Segalanya

Melihat statistik, tampak hampir tidak dapat dipercaya pada pandangan pertama. Slovakia, negara yang terkurung daratan dengan hanya 5,4 juta penduduk, memperoleh 85,1% output ekonominya dari ekspor. Hongaria tidak jauh tertinggal dengan 88%. Dan Siprus, pulau kecil Mediterania dengan 1,3 juta penduduk, memimpin dengan angka yang menakjubkan yaitu 96,69%.

Untuk setiap dolar aktivitas ekonomi di Siprus, sembilan puluh tujuh sen bergantung pada penjualan sesuatu kepada orang lain. Negara-negara ini tidak hanya berdagang—mereka hidup dan bernapas karenanya. Sebagian besar ekonom akan mengatakan bahwa tingkat ketergantungan ekspor ini merupakan kerentanan. Jika permintaan global melemah, jika jalur pelayaran ditutup, jika mitra dagang menjadi proteksionis—ekonomi ini akan hancur. Tetapi, ini adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ini bukan kelemahan. Ini adalah strategi yang disengaja.

Bayangkan seperti ini: ketika kita terpojok, kita akan berjuang lebih keras. Negara-negara kecil ini tidak memiliki sumber daya alam untuk diandalkan. Tidak ada pasar domestik yang luas untuk meredam guncangan ekonomi. Tidak ada populasi besar untuk menghasilkan permintaan internal. Mereka harus bersaing atau, mereka akan lenyap. Dan karena itu, mereka membangun seluruh perekonomian mereka di sekitar hal tersebut.

 

Permainan Spesialisasi

Yang membuat negara-negara ini begitu sukses bukanlah hanya karena mereka mengekspor, tetapi apa yang mereka ekspor, dan bagaimana caranya.

Slovakia diam-diam telah menjadi produsen mobil paling produktif di dunia per kapita. Negara ini memproduksi lebih banyak mobil daripada jumlah penduduknya, menggunakan teknologi canggih yang menempatkannya di garis depan teknik otomotif. Berkendaralah melalui zona industri Bratislava dan Anda akan melihat pabrik Volkswagen, Kia, dan Peugeot yang ramai—masing-masing merupakan bukti dari negara yang mempertaruhkan segalanya untuk menjadi kekuatan manufaktur Eropa.

Hongaria mengambil jalur yang serupa, berfokus pada otomotif, TI, dan pengolahan makanan. Tetapi ada perbedaan penting: Hongaria menawarkan tarif pajak perusahaan terendah di Uni Eropa, hanya 9%. Ketika perusahaan multinasional menghitung di mana akan menempatkan operasi Eropa mereka, angka itu berbicara lebih keras daripada tawaran diplomatik apa pun. Hasilnya adalah banjir investasi asing yang mengubah Hongaria dari negara pasca-komunis yang berjuang menjadi pusat regional.

Republik Ceko memainkan permainan yang lebih panjang. Dengan 10,8 juta penduduk, negara ini memiliki skala untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi—dan memang telah melakukannya. Negara ini dengan cepat menjadi pusat industri teknologi tinggi di Eropa: bioteknologi, keamanan siber, dan kecerdasan buatan. Tidak seperti negara-negara tetangganya, Republik Ceko memilih untuk tidak mengadopsi Euro, menjaga independensi kebijakan moneter sambil menikmati semua manfaat keanggotaan Area Schengen. Ini adalah pilihan strategis yang memberikan fleksibilitas kepada negara tersebut sambil mempertahankan integrasi.

Siprus mengambil pendekatan yang sama sekali berbeda. Terletak di persimpangan Eropa, Asia, dan Afrika, pulau ini telah memanfaatkan lokasi strategisnya untuk menjadi gerbang investasi di berbagai sektor: teknologi keuangan, game, pertahanan energi, penelitian dan pengembangan, dan perusahaan rintisan. Yang membuat Siprus sangat menarik adalah tenaga kerjanya—berpendidikan tinggi, berbahasa Inggris, dan bersedia bekerja dengan upah yang kompetitif.

Masing-masing negara ini menemukan ceruknya. Mereka tidak mencoba bersaing dengan Jerman dalam segala hal. Mereka mengidentifikasi area di mana mereka dapat menang, dan mereka mencurahkan segalanya ke sektor-sektor tersebut.

 

Teka-Teki Integrasi

Mungkin bagian yang paling menarik adalah bagaimana negara-negara ini menavigasi integrasi Eropa. Pandangan umum adalah bahwa integrasi penuh, mengadopsi Euro, bergabung dengan zona bebas perbatasan Schengen, selalu menguntungkan. Tetapi data menunjukkan sesuatu yang lebih bernuansa:

 

  • Slovakia: Integrasi penuh (Schengen + Zona Euro)
  • Hongaria: Integrasi penuh (Schengen + Zona Euro)
  • Republik Ceko: Integrasi parsial (Schengen, tanpa Euro)
  • Siprus: Integrasi parsial (Zona Euro, tanpa Schengen)

 

Setiap negara memilih apa yang sesuai dengan keadaan spesifiknya. Tidak ada model yang cocok untuk semua.

Keputusan Republik Ceko untuk mempertahankan mata uangnya sendiri, misalnya, memberinya kendali atas kebijakan moneter yang tidak dinikmati Slovakia dan Hongaria. Ketika Zona Euro menghadapi krisis, bisnis Ceko masih dapat mengandalkan intervensi bank sentral. Sementara itu, Siprus memilih Euro tetapi tetap berada di luar Schengen, mempertahankan kontrol perbatasan yang lebih ketat sambil menikmati stabilitas mata uang yang diberikan oleh keanggotaan tersebut.

Ini bukanlah pilihan acak. Ini adalah keputusan strategis yang diperhitungkan, yang dibuat oleh negara-negara yang memahami persis apa yang mereka korbankan dan apa yang mereka peroleh sebagai imbalannya.

 

Cermin bagi Indonesia

Beralih ke Indonesia, angka-angka tersebut menceritakan kisah yang sangat berbeda. Ekspor Indonesia hanya mencapai 22,18% dari PDB-nya.

Angka itu dibandingkan dengan rasio 85-96% dari negara-negara kecil Eropa. Indonesia adalah negara dengan 280 juta penduduk, dengan sumber daya alam yang melimpah, basis manufaktur yang berkembang, dan potensi pasar domestik yang besar. Namun, Indonesia mengekspor kurang dari seperempat dari produksi domestiknya.

“Jika negara-negara kecil ini dapat mencapai rasio PDB ekspor 85-96%, mengapa kita tidak bisa?.” Ini membuat kita frustrasi dan rasa ingin tahu yang sama besarnya. Kita memiliki lebih banyak sumber daya. Lebih banyak penduduk. Lebih banyak segalanya.

Jawabannya, terletak pada perbedaan mendasar dalam orientasi ekonomi. Negara-negara kecil Eropa adalah ekonomi industri yang didorong oleh ekspor. Indonesia, terlepas dari ambisinya, sebagian besar tetap didorong oleh konsumsi. Kita memproduksi, tetapi kita mengonsumsi sebagian besar dari apa yang kita buat. Kita memiliki potensi untuk bersaing secara global, tetapi kita belum sepenuhnya melakukannya. Kuncinya adalah industrialisasi. Dan kunci industrialisasi adalah ekspor.

 

Pergeseran Pragmatis

Era ideologi dalam hubungan internasional telah berakhir. Perang Dingin, dengan aliansi kaku dan blok ideologisnya, telah digantikan oleh sesuatu yang lebih cair dan praktis. Era Perang Dingin di mana ideologi menggerakkan hubungan internasional telah berakhir. Diplomasi saat ini didorong oleh peluang ekonomi.

Pergeseran ini telah menciptakan peluang yang tampaknya mustahil hanya satu generasi yang lalu. Kerja sama pertahanan Slovakia dengan Indonesia, misalnya, tidak didasarkan pada keselarasan politik atau ideologi bersama. Kerja sama ini berakar pada kebutuhan konkret: Slovakia memiliki teknologi militer yang canggih, Indonesia perlu memodernisasi kemampuan pertahanannya; dan kedua negara mendapat manfaat dari pertukaran tersebut.

Logika yang sama berlaku untuk kemitraan keamanan siber, investasi otomotif, dan pertukaran pendidikan. Hubungan ini tidak dibangun atas dasar sentimen—melainkan atas dasar saling menguntungkan.

 

Keharusan Bertahan Hidup

Kelangsungan hidup suatu negara mengharuskan negara tersebut untuk mencoba setiap pendekatan yang mungkin dilakukan, tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga menjadi lebih maju. Negara-negara kecil di Eropa ini menunjukkan kepada kita bagaimana hal tersebut dapat dilakukan. Ada sesuatu yang hampir bersifat Darwinian dalam perspektif ini. Di dunia di mana yang kuat semakin kuat dan yang lemah semakin tertinggal, negara-negara kecil di Eropa telah menemukan cara untuk bersaing. Mereka melakukannya melalui spesialisasi, melalui kemitraan strategis, melalui industrialisasi yang agresif, dan melalui fokus yang tiada henti pada pertumbuhan yang didorong oleh ekspor.

Mereka telah membuktikan bahwa kelangsungan hidup bukanlah soal ukuran, tetapi soal strategi.

 

Pelajaran di Dunia yang Berubah

Bagi Indonesia, dampaknya jelas. Kita dapat terus mengandalkan sumber daya alam dan pasar dalam negeri, dan merasa nyaman dengan status kita sebagai negara “besar”. Atau kita bisa belajar dari negara-negara kecil di Eropa dan menerapkan visi ekonomi yang lebih ambisius.

Data menunjukkan bahwa hal ini bukan hanya sekedar peluang yang terlewatkan, tetapi juga merupakan kesalahpahaman mendasar mengenai cara kerja perekonomian global. Negara-negara kecil di Eropa tidak hanya bertahan; mereka juga berkembang. Dan mereka melakukannya dengan melakukan hal yang selama ini enggan dilakukan oleh Indonesia: bersaing secara agresif di panggung global.

Pertanyaannya bukanlah apakah Indonesia dapat menyamai rasio ekspor mereka. Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia mencoba.

KIKE Sukses Gelar Diskusi Bulanan Seri #4, Kupas Tuntas Strategi Diplomasi Negara Kecil di Eropa

YOGYAKARTA – Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa (KIKE) sukses menyelenggarakan Diskusi Bulanan Seri #4 secara virtual melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu (20/06/2026). Mengangkat tema “Small States, Big Strategies: Diplomasi, Political Economy, dan Hubungan Eksternal Negara Kecil di Eropa”, acara ini berhasil menarik perhatian dan antusiasme tinggi dari para peserta.

Diskusi kali ini menghadirkan narasumber utama yang sangat kompeten di bidangnya, yakni Dr. Pribadi Sutiono, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Slovakia periode 2021-2026. Dalam sesi pemaparannya, Dr. Pribadi membedah secara mendalam bagaimana negara-negara berukuran kecil di Eropa mampu bermanuver dan bertahan di tengah dinamika geopolitik global yang kompleks. Beliau menyoroti strategi diplomasi dan pemanfaatan integrasi ekonomi politik kawasan yang membuat negara-negara tersebut tetap memiliki daya tawar yang signifikan.

Untuk memperkaya wawasan peserta, diskusi ini juga menghadirkan Irwan Iskandar, S.IP., MA, Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Riau, yang bertindak sebagai komentator pendamping. Dalam sesinya, Bapak Irwan memberikan ulasan kritis serta tambahan perspektif akademis yang mengontekstualisasikan manuver negara-negara kecil Eropa tersebut dengan kajian Hubungan Internasional secara lebih luas.

Rangkaian diskusi selama kurang lebih dua jam ini berjalan dengan sangat lancar dan interaktif. Atmosfer akademis yang positif sangat terasa pada sesi tanya jawab.

Melalui kegiatan ini, KIKE berharap dapat terus memperluas pemahaman dan memantik diskursus yang lebih komprehensif mengenai dinamika Eropa kontemporer di kalangan akademisi dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama secara virtual.

Negara-Negara Kecil, Strategi Besar Bagaimana Negara-Negara Mini Eropa Menulis Ulang Aturan Kekuasaan

Oleh Dubes Dr. Pribadi Sutiono

Dalam panggung besar hubungan internasional, kita telah terbiasa mengamati para pemain besar. Ketika pikiran kita beralih ke pengaruh global, secara naluriah pikiran kita tertuju pada koridor kekuasaan Washington, birokrasi Beijing yang luas, atau tembok Kremlin Moskow. Bahkan di dalam Eropa, kita memusatkan pandangan kita pada mesin ekonomi Berlin, kehalusan diplomatik Paris, atau kekuatan finansial London.

Namun, kita telah mencari di tempat yang salah. Drama sebenarnya, menurutnya, sedang berlangsung di antara para pemain yang begitu kecil sehingga hampir tidak terdaftar di peta mental kebanyakan orang.

 

Pandangan dari Kantor Duta Besar

Siprus pada tahun 2026 adalah sebuah negara yang begitu kecil sehingga bisa muat di wilayah metropolitan Jakarta beberapa kali lipat. Sebuah negara dengan hanya 1,3 juta penduduk, lebih kecil dari banyak kota di Indonesia, memegang jabatan presiden bergilir Dewan Uni Eropa. Namun di sinilah ia berada, menengahi perjanjian, menetapkan agenda, dan membentuk kebijakan yang memengaruhi setengah miliar warga Eropa.

Kecil itu indah. Tetapi dalam hubungan internasional, kecil tidak selalu menjadi batasan. Slovakia, sebuah negara Eropa lain yang jarang menjadi berita utama, berperan jauh di atas kelasnya. Negara ini memproduksi lebih banyak mobil per kapita daripada negara lain manapun di bumi. Kemampuan keamanan siber-nya melegenda. Dan diam-diam telah menjadi salah satu mitra Indonesia yang paling berharga di Eropa, menandatangani satu-satunya perjanjian kerja sama pertahanan di benua itu dengan Jakarta.

Pertanyaannya, bagaimana?

 

Tiga Jalan Menuju Pengaruh

Seperti kelas master dalam improvisasi strategis, negara-negara kecil Eropa telah mengembangkan tiga strategi bertahan hidup yang berbeda, masing-masing sangat sesuai dengan keadaan unik mereka, dan masing-masing membawa pelajaran yang sebaiknya diserap oleh Indonesia.

 

Manuver Institusional

Siprus memilih jalan pengaruh institusional. Tanpa kekuatan militer yang berarti dan ekonomi yang dapat ditelan seluruhnya oleh satu perusahaan Jerman, Siprus harus menemukan cara lain untuk menjadi penting. Jawabannya datang melalui Uni Eropa itu sendiri.

Dengan mengamankan kepresidenan Dewan Uni Eropa, Siprus memperoleh sesuatu yang tak ternilai harganya: enam bulan perhatian global. Enam bulan untuk menetapkan agenda. Enam bulan untuk memaksa negara-negara yang lebih besar untuk mendengarkan.

Siprus menggunakan posisi kepresidenan untuk meningkatkan profilnya. Mereka mendorong keras kerja sama pertahanan Eropa dan daya saing ekonomi. Tiba-tiba, semua orang harus memperhatikan pulau kecil ini.

Ini adalah langkah klasik negara kecil: memanfaatkan lembaga-lembaga yang dapat diakses untuk memperkuat suara mereka. Siprus memahami bahwa di Uni Eropa, setidaknya, kesetaraan formal di antara negara-negara anggota lebih dari sekadar fiksi yang sopan—itu adalah realitas yang dapat dieksploitasi.

 

Strategi Spesialisasi Ceruk

Negara-negara Baltik—Estonia, Latvia, dan Lituania—memilih jalan yang berbeda. Alih-alih mencari keunggulan institusional, mereka membangun keahlian kelas dunia di bidang-bidang yang tidak mudah ditiru oleh negara-negara yang lebih besar.

Kisah ini dimulai pada tahun 2007, ketika infrastruktur digital Estonia mengalami serangan siber besar-besaran, yang secara luas diyakini berasal dari Rusia. Alih-alih hanya memperbaiki kerusakan dan melanjutkan, Estonia membuat pilihan strategis. Mereka akan menjadi sangat ahli dalam keamanan siber sehingga tidak ada yang dapat mengabaikan mereka.

Ketiga negara ini telah mempertajam spesialisasi mereka ke satu bidang. Mereka menciptakan kedutaan data, mereka menjadi pusat saraf keamanan siber Eropa. Ketika perang Ukraina dimulai, merekalah yang memimpin pertahanan siber Eropa.

Latvia menjadi tuan rumah Pusat Keunggulan Komunikasi Strategis NATO. Infrastruktur digital Estonia kini dianggap sebagai salah satu yang paling aman di planet ini. Lithuania telah menjadi pusat kerja sama keamanan regional.

Kehebatan pendekatan ini terletak pada keberlanjutannya. Anda tidak membutuhkan tentara yang besar atau ekonomi yang luas untuk menjadi yang terbaik di satu bidang yang sangat khusus. Anda hanya perlu cerdas, fokus, dan gigih.

 

Hedging Multi-Arah

Slovakia mewakili sesuatu yang lebih kompleks, tindakan penyeimbang yang memerlukan ketangkasan diplomasi yang luar biasa. Negara ini berada di pusat geografis Eropa, sebuah posisi yang secara historis berarti terjebak di antara kekuatan-kekuatan yang saling bersaing. Daripada memihak, Slovakia justru menganut apa yang disebut Duta Besar Pribadi sebagai strategi “Empat Sudut Kompas”.

Slowakia tidak ingin lagi disebut Eropa Timur. Mereka bersikeras pada Eropa Tengah. Dan itu bukan sekadar kesia-siaan dan ini adalah pernyataan strategis.

Negara ini memelihara hubungan yang kuat dengan lembaga-lembaga Barat seperti NATO dan UE sekaligus membina hubungan dengan negara-negara Selatan, khususnya di Asia Tenggara. Ketika Menteri Luar Negeri Slovakia mengunjungi Kamar Dagang Indonesia baru-baru ini, beliau datang dengan membawa peluang: insentif investasi, keuntungan logistik, dan sambutan hangat yang mengejutkan bagi dunia usaha di Indonesia. Mereka melihat ke luar Eropa,” jelas Dubes Pribadi. Dan itu menciptakan ruang bagi mereka.

Hasilnya? Slovakia telah menjadi pintu gerbang Indonesia menuju benua tersebut. Hubungan bilateral tersebut telah menghasilkan 22 perjanjian aktif sejak tahun 2022, investasi Slovakia di Indonesia melonjak 277% pada tahun 2024, dan pekerja migran Indonesia di Slovakia meningkat dari hanya 150 menjadi 1.650 selama masa jabatan Dubes Pribadi.

 

Teori di balik Praktik

Kita perlu membalikkan pendekatan akademis yang standar. Daripada memulai dengan teori dan kemudian mencari contoh, kita perlu mengamati contoh-contoh tersebut terlebih dahulu dan kemudian bertanya: kerangka teori apa yang menjelaskan apa yang kita lihat?

Jawabannya adalah “realisme neoklasik”—sebuah istilah bagus untuk sebuah gagasan sederhana: tekanan sistemik disaring melalui politik dalam negeri. Secara sederhana, tantangan global menciptakan peluang, namun hanya jika kepemimpinan, lembaga, dan kepentingan nasional suatu negara selaras untuk meraih peluang tersebut.

Pertimbangkan Eropa sekarang. Benua ini terhuyung-huyung akibat krisis yang saling tumpang tindih: perang Ukraina, kekurangan energi, inflasi, dan meningkatnya ketegangan antara AS dan sekutu-sekutunya di Eropa. Tekanan-tekanan ini menghasilkan gelombang nasionalisme dan populisme di seluruh kawasan. Tekanan sistemik di Eropa sangat besar. Dan ini memaksa negara-negara kecil untuk beradaptasi dengan cara yang benar-benar menguntungkan kita.

Pergeseran Slovakia ke arah Dunia Selatan, misalnya, bukan hanya soal ideologi, tetapi soal kelangsungan hidup. Ketika Eropa berada dalam kekacauan, diversifikasi hubungan menjadi masalah keamanan nasional. Dan bagi Indonesia, hal ini menciptakan sebuah pembukaan yang luar biasa.

 

Peluang Indonesia

Pengusaha Indonesia perlu untuk menjajaki peluang di Slovakia. Namun rekomendasi ini hanya mendapat tatapan kosong. Kadang-kadang pengusaha kita hanya mengenal Belanda, Jerman, Paris, London. Ini menimbulkan frustrasi. Saat di=berityahu tentang Slovakia, para pengusaha justru bertanya, “Mengapa pergi ke sana? Apa gunanya?’”

Jawabannya terletak pada aritmatika dasar. Slovakia berada di pusat Eropa. Mendirikan pusat logistik di sana berarti akses ke seluruh pasar Eropa dengan biaya yang jauh lebih rendah. Biaya ekspor melalui Eropa Selatan hanya sepertiga dari biaya ekspor melalui Eropa Utara—sebuah perbedaan yang sangat penting ketika margin tipis.

Ada alasan Slovakia tidak mau lagi disebut Eropa Timur. Mereka telah berkembang pesat, dan mereka menawarkan syarat-syarat yang lebih menguntungkan dibandingkan negara-negara tradisional. Peluangnya bukan hanya ekonomi. Industri maju di Slovakia, manufaktur otomotif, keamanan siber, teknologi pertahanan, bioteknologi, menawarkan jalur bagi perusahaan dan institusi Indonesia menuju pengetahuan dan kemitraan mutakhir.

Hasilnya sudah bisa dilihat. Kolaborasi pabrik baterai, perjanjian kerja sama pertahanan, kemitraan keamanan siber dengan BSSN. Ini bukan sekadar selembar kertas. Mereka adalah kemitraan hidup yang menguntungkan kedua belah pihak.

 

Pelajaran yang Terlupakan

Kita masih berpegang pada peta mental yang sudah ketinggalan jaman. Para pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan bahkan akademisi di Indonesia sering kali mempunyai pandangan yang sangat terbatas terhadap Eropa. Kita memiliki kecenderungan untuk memperlakukan Eropa Timur sebagai sebuah monolit. Atau, lebih buruk lagi, kita bahkan tidak tahu di mana negara-negara ini berada. Namun negara-negara ini telah mengubah diri mereka sendiri, dan mereka menghubungi kita.

Indonesia sedang mengalami rasa berpuas diri yang berbahaya. Indonesia melihat dirinya sebagai sebuah negara besar, dan bertindak sesuai dengan pandnagan tersebut, mengandalkan ukuran dan sumber daya alam kami untuk menarik perhatian. Namun di dunia sekarang ini, pengaruh mengalir ke kelompok yang gesit, bukan hanya kelompok yang jumlahnya banyak.

 

Cara Melihat yang Baru

Berdasarkan dua puluh lima tahun pengalaman  dalam diplomasi, yang dibutuhkan saat ini adalah pragmatisme geopolitik. Dari Siprus hingga Slovakia, negara-negara kecil telah membuktikan bahwa pengaruh dibangun melalui pragmatisme, spesialisasi, dan jaringan—bukan sekadar kapasitas material.

Ini adalah pelajaran yang melampaui batas-batas Eropa. Di dunia di mana kekuasaan semakin menyebar, hierarki tradisional mulai runtuh, dan para raksasa semakin sulit mengendalikan permainan, para pemain kecil menunjukkan kepada semua orang bagaimana hal itu dilakukan. Bagi Indonesia, sebuah negara yang sering digambarkan sebagai negara yang “besar tapi belum besar”, implikasinya jelas: jika kita ingin menjadi berarti, kita perlu berpikir seperti negara-negara kecil. Kita perlu bersikap strategis, fokus, dan bersedia menjajaki kemitraan yang tidak konvensional.

Kita harus berhenti bertanya “Mengapa di sana?” dan mulai bertanya “Mengapa tidak?”

Press Release Seri Seminar #2 Perang dan Damai Di Eropa: Menegok ke Belakang, Menatap ke Depan

Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa (KIKE) kembali menyelenggarakan Seri Seminar #2. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting ini bertujuan mengoptimalkan penyebaran informasi dan menjadi media diskusi pengkaji Eropa di Indonesia. Seri Seminar #2 diselenggarakan pada Rabu, 30 November 2022 pukul 14.00-16.00 WIB yang dihadiri sebanyak 102 peserta.

Seri Seminar #2 kali ini menghadirkan 3 (tiga) pembicara, yaitu Aswin Ariyanto Azis, SIP, MDevSt (Anggota KIKE dan dosen Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya); Dr. Phill. Siti Rokhmawati Susanto, S.IP., MIR (Anggota KIKE dan dosen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga); Yulius Purwadi Hermawan, Ph.D (Anggota KIKE dan dosen Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan). Diskusi dipandu oleh moderator Firsty Chintya Laksmi Perwabani, S.Hub.Int., M.Hub.Int (Anggota KIKE dan Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur).

Diskusi dibuka oleh Wakil Ketua KIKE Paramitaningrum, Ph.D. Paramitaningrum menyampaikan bahwa Seri Seminar hadir kembali masih dengan topik yang sama yakni konflik Rusia-Ukraina. Menurutnya konflik ini merupakan konflik yang mulltidisiplin karena berhubungan dan memiliki keterlibatan dengan isu Climate Change, Sosial, Migrasi, dan Budaya. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan membawa manfaat tidak hanya untuk para penstudi Kawasan Eropa.

Narasumber pertama Aswin Azis menyoroti dinamika Kerjasama Uni Eropa (UE)-Cina di tengah persaingan AS-Cina. Hubungan UE-Cina telah berlangsung sejak tahun 1975. Hubungan bilateral ini dilakukan karena kedua pihak saling membutuhkan sehingga diresmikan dalam bentuk Strategic Partnership (kemitraan strategis). Kedua pihak menerapkan kebijakan Unconditional Engagement atau hubungan perangkulan tanpa syarat, yang memberikan kemudahan untuk Cina mengembangkan pasarnya dan keterbukaan ekonomi. Hubungan ini telah memberikan banyak keuntungan khususnya bagi Cina, dan   tidak terlalu menguntungkan bagi UE sendiri, karena UE dirugikan dari sisi trade defisit dan Cina lebih diuntungkan dari hubungan perdagangan, berdasarkan data terakhir, di tahun 2021 trade deficit berada diangka 149 dan naik menjadi 269 di tahun 2022 atau sekitar lebih dari 100 Billion USD kenaikannya. Namun, lambatnya UE dalam melihat perubahan Cina yang menyebabkan berubahnya status hubungan Cina-UE menjadi competitive rival. Aswin juga menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan competitive rival diantaranya perubahan status Cina menjadi negara New Emerging Power dengan membuat tandingan melalui program Belt Road Initiative (BRI); Cina merangkul Rusia untuk menanggulangi dominasi dolar; dan membangun koalisi yang negatif dalam pemungutan suara di UN terkait perang Rusia dan Ukraina untuk abstain atau mendukung Rusia. Selain itu, melalui diplomasi yang kuat oleh Cina, Cina mulai melakukan tindakan yang kurang disetujui oleh UE, dimulai dari secara tertutup Cina mengajak Yunani untuk bergabung ke dalam China-CEE 17+1 Forum dan Italia bergabung ke BRI ditahun 2019.

Tak hanya itu, pandangan kebijakan luar negeri Cina terhadap UE yang menganggap UE lemah dan UE yang jauh lebih membutuhkan Cina daripada Cina yang membutuhkan UE. Hal ini ditunjukkan dengan keberanian Cina dalam melakukan pembatalan terhadap China-Uni Eropa Summit. Berbagai hal tersebut menjadi tantangan yang masuk ke dalam agenda UE terkait bagaimana menangani Cina dari aspek ekonomi dan politik. Menurutnya perang Rusia-Ukraina sebenarnya merupakan perang antara Rusia dengan Amerika Serikat (AS). Perubahan Cina telah membuat Eropa menyadari perbedaan value atau nilai antara keduanya. Namun, UE memiliki kesamaan tujuan dan value dengan AS, yaitu salah satunya pada nilai demokrasi melalui hubungan transatlantic relationship. Dengan tujuan untuk menangani Cina, AS mengajak UE untuk kerjasama dengan menerapkan Strategic Otonomi dan memasukan Cina di dalam Agenda NATO. Dalam hal ini, Aswin menegaskan bahwa perlu adanya Global China policy dan UE seharusnya berjalan dengan keputusannya atau tidak hanya sekedar mengulangi apa yang disampaikan AS.

Narasumber kedua Siti Susanto menyoroti bagaimana pengaruh perang dan sejauh mana pengaruhnya terhadap masalah iklim. UE selalu menjadi yang pertama dan konsisten, serta menjadi pemimpin terkait isu perubahan iklim. UE membuat dan mengeluarkan Program Green Deal yang menjadi Rencana Ambisius Uni Eropa terkait Net Zero Emission 2050 dan memotong pengurangan emisi pada tahun 2030 dengan memutuskan hanya akan menghasilkan emisi 50%. Hal tersebut dilakukan dengan modalitas Renewable Energy Directives 2009 dan tambahan di 2018. Selain itu, program Green Deal dilakukan untuk mengurangi ketergantungan UE terhadap pasokan energi dari Rusia. Sebelumnya, energi khusunya Batu Bara yang dipasok oleh Rusia dari penggunaan ditahun 2010 mengalami penurunan sebanyak 50% jika dibandingkan ditahun 2021. Rencana pengurangan penggunaan batu bara di UE telah diperhitungkan khususnya untuk setiap negara-negara UE terkait kapan waktunya untuk melepaskan diri dari impor batu bara yang dipasok oleh Rusia.

Selain itu, terjadinya Covid-19 juga telah melumpuhkan sektor ekonomi dan berlanjut dengan terjadinya perang Rusia-Ukraina. Namun, UE tetap konsisten dalam mewujudkan target di dalam Green Deal. Kehadiran The Next Generation UE menekankan pada fokus terhadap digitalisasi single market, peningkatan ekonomi, dan lingkungan, yang masuk ke dalam strategi yang sangat masif dalam segi pendanan dengan anggaran dana sebesar 1 Triliun Euro. Perang Rusia-Ukraina telah membuat manuver dan meluncurkan REpower UE yang merupakan tindakan komitmen untuk mengurangi ketergantungan dengan Rusia. Selama perang berlangsung, minyak gas Eropa masih dipasok dari Rusia sebanyak 30% dengan harga yang tinggi sekitar 100 M pada saat Winter (musim dingin).  REpower juga di-dalamnya mengatur keputusan UE untuk tidak menjadikan Rusia sebagai pemasok energi utama dan mengakselerasi renewable energy source di UE dengan menjadikan Hidrogen dan Biometan menjadi pemasok energi di samping air, angin, dan solar. REpower juga mengubah Rusia sebagai supplier utama energi, ke beberapa negara yaitu Azerbaijan, Algeria, Norwegia, Qatar, Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat. Namun, hal ini masih dipertimbangkan karena mengingat bagaimana cara mendapatkan sumber energinya apakah masih “Hijau”, dikarenakan beberapa negara baru yang menjadi pemasok energi, tengah menjadi Green Treater.

Narasumber ketiga Yulius Purwadi memfokuskan pada kondisi terkini melalui paparannya yang berjudul, “Russian and Ukraine War: lessons for Europe, challenges for G20”. Dalam Forum G20 kali ini, Uni Eropa berada di posisi yang berseberangan dengan Rusia. Beberapa sanksi yang merupakan inisiatif dari Uni Eropa berhasil dijatuhkan terhadap Rusia. Dalam negosiasi, Uni Eropa sangat berperan aktif dalam membangun konsensus jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang menjadi anggota Forum G20 (Italia, Jerman dan Prancis) maupun negara eropa lainnya (Belanda dan Spanyol). Namun dalam membangun konsensus tentang agresi dalam Ministerial Meetings, UE lebih memilih untuk tidak memberikan masukan. Menurut Yulius, UE tidak bisa bekerja sama dengan Amerika Serikat karena UE tidak selalu sejalan dengan intervensi yang dikeluarkan Amerika Serikat dalam negosiasi forum G20. Di akhir pembahasan, Yulius menyebutkan beberapa kegagalan untuk membuat konsensus yang sangat terlihat jelas dari diksi geopolitik yang ada dalam Ministerial Statement or Communiques.

Selain itu, Yulius menjelaskan lebih lanjut bagaimana terganggunya kegiatan kenegaraan akibat adanya perang antara Rusia dan Ukraina. Dalam closing statement, disebutkan bahwa “Kita tidak tahu kapan perang berakhir, namun jangan lelah untuk berharap agar perang ini akan segera berakhir karena negara yang paling unggul dalam perang adalah negara yang lebih mengutamakan kepentingan bersama”

Setelah narasumber menyelesaikan pemaparan, diskusi dilanjutkan agenda tanya-jawab antara peserta dengan narasumber. Diskusi berlangsung interaktif dan dua arah. Selanjutnya, kegiatan Seri Seminar #2 ditutup dengan foto bersama.

 

Press Release

Kolaborasi Pengabdian Masyarakat Prodi HI Universitas Brawijaya dan KIKE

Sabtu, 15 Oktober 2022

Pukul 12:50 s/d 14:30 WIB


Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa (KIKE) kembali menyelenggarakan kolaborasi dengan Prodi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya dalam rangka pengabdian masyakarat melalui Focus Group Discussion (FGD) Rancang Kegiatan Kelas Kolaboratif Mata Kuliah Studi kawasan Eropa Semester Ganjil 2022-2023. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting guna mengoptimalkan proses diskusi dengan memperhatikan jarak dari para partisipan. FGD ini diselenggarakan pada Sabtu, 15 Oktober 2022 pukul 12.50 – 14.30 WIB yang dihadiri oleh Perwakilan Universitas Brawijaya dan Partisipasi Kajian Eropa.

Focus Group Discussion Pengembangan Kapasitas Komunitas Indonesia untuk kajian Eropa (KIKE) dalam penyelenggaraan agenda kelas Eropa Integratif yang telah terlaksana kali ini dihadiri oleh Drs. Muhadi Sugiono, M.A selaku perwakilan dari KIKE dan merupakan Ketua Umum KIKE serta dihadiri juga oleh Firstyarinda Valentina Indraswari, S.Sos., M.Si (Rinda) perwakilan dari Universitas Brawijaya, yang merupakan Wakil Bendahara KIKE dan sekaligus moderator dalam kegiatan diskusi ini. Rinda menjelaskan bahwa program kolaborasi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan KIKE untuk membangun terobosan dalam agenda pendidikan, amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan kebijakan dari Rektor Universitas Brawijaya mengenai program kelas kolaboratif dan partisipatif.

Kegiatan Focus Group Discussion dibuka oleh Najwaa Ranaa Aqiilah selaku Master of Ceremony (MC). Setelah pembukaan oleh MC, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua KIKE. Beliau menjelaskan bahwa program kolaborasi ini nantinya diharapkan bisa diikuti oleh banyak mahasiswa dari berbagai universitas yang tidak hanya untuk mahasiswa Universitas Brawijaya saja, tetapi bisa diikuti oleh mahasiswa/i dari berbagai universitas yang berada di dalam komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa (KIKE). Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dan diskusi oleh Rinda terkait harapan dalam peningkatan kolaborasi, beliau juga menyampaikan beberapa poin tujuan dibentuknya program Kelas Studi Kawasan Eropa yaitu untuk menyelesaikan kendala penyelenggaraan forum pelajar Kajian Eropa terkait Isu-Isu Spesifik, menyelesaikan kendala komunitas, memenuhi dan membangun model kelas Integratif. Pengkaji studi Diplomasi Kota ini juga menyampaikan program kelas Eropa integratif pemetaan sister city/province antara kota-kota di Indonesia dan di Eropa, yang melibatkan mahasiswa anggota KIKE. Sister City merupakan program yang dapat membantu fungsi pemerintah dalam membina pemerintah daerah dan masyarakat lintas negara. Sister city sendiri saat ini masih sangat kurang dipahami pada kehidupan di masyarakat. Program Kelas Eropa Integratif ini dilakukan dengan tujuan kegiatan untuk memberikan literasi awal tentang salah satu sub kajian Eropa.

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu masuk kedalam agenda Forum Group Discussion (FGD) yang dipandu oleh Wishnu Mahendra Wiswayana, S.Sos., M.Si (Wishnu), peneliti Sister City dari Universitas Brawijaya, untuk memberikan kesempatan kepada partisipan acara ini terkait menyampaikan Feedback atas penjelasan yang sebelumnya dijelaskan oleh Rinda. Para Dosen dari Universitas Brawijaya memberikan beberapa masukan atau catatan melalui platform jamboard terkait program Kelas Eropa Integratif ini. Salah satu masukan dari peserta yang hadir dalam kegiatan FGD ini adalah terkait dengan total peserta yang dibuka untuk mahasiswa dalam kegiatan ini, serta bagaimana mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini benar-benar berpartisipasi, alokasi yang diberikan kepada setiap universitas dan bagaimana untuk menentukan jumlah kelompok untuk program kelas Eropa integratif ini.

Selain itu, Wishnu memberikan kesempatan kepada Ketua Umum KIKE untuk menyampaikan masukan atau pertanyaan dari penjelasan yang sudah dipaparkan oleh Rinda. Adapun pertanyaan dari Ketua Umum KIKE, Muhadi, yaitu terkait dengan identifikasi mengenai sister city yang sudah dilakukan oleh kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di Eropa, apakah sudah dilakukan oleh Rinda dan Tim untuk mengindetifikasi terkait hal ini? Serta sejauh mana signifikansi dari hal ini? Kemudian Muhadi menambahkan hal tersebut terkait dengan target dari adanya program ini yaitu apakah untuk mendorong munculnya sister city atau untuk memperkuat sister city yang ada? Setelah terdapat masukan dan pertanyaan, dilanjutkan respon dari Rinda yang menjawab beberapa hal terkait kuantitas peserta dan mekanisme untuk jumlah peserta, terdapat fokus pada tujuan kelas ini untuk membangun komunitas kecil terkait sister city minimal 1 orang perwakilan dari setiap Universitas. Selain itu, pemateri untuk kelas ini akan mengundang dari praktisi dan referensi pemateri tidak hanya dari lingkup Sosial Humaniora (Soshum), tetapi juga dapat dari eksakta. Adapun referensi pemateri beririsan dengan bidang kajian, yang dimana nantinya bapak/ibu dosen dapat bersedia untuk memberikan pengetahuannya terkait sister city kepada mahasiswa dan masyarakat. Kelas Eropa Integratif ini akan memberikan penugasan kepada mahasiswa yang berpartisipasi didalamnya dengan tugas yang ringan dan menyenangkan. Kelas ini juga disepakati oleh bapak/ibu dosen untuk memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang berpartisipasi  pada kelas ini dengan memberikan sertifikat dan penambahan nilai yang diberikan kepada mahasiswa/I didalam mata kuliah. Forum Group Discussion ini telah mencapai kesepakatan yakni kelas Eropa Integratif akan mulai berjalan pada pekan depan sampai dengan 5 minggu ke depan, dan untuk mahasiswa/I yang akan mengikuti kelas ini akan mendaftarkan  diri dengan mengisi Google Form dan harus mengikuti kelas hingga selesai. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi penutup dan foto bersama.

Gambar 1. Dokumentasi Pelaksanaan Kolaborasi Pengabdian Masyarakat Prodi HI Universitas Brawijaya dan KIKE

Sumber : Arsip Panitia

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini, dapat menghubungi KIKE (kike@kike.or.id) (MWMP).

Press Release Seminar Series #1 Perang dan Damai di Eropa: Menengok Ke Belakang, Menatap Ke Depan

Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa (KIKE) kembali menyelenggarakan Seminar Seri #1 yang bertemakan “Perang dan Damai di Eropa: Menengok ke Belakang, Menatap ke Depan”. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting guna mengoptimalkan proses diskusi dengan memperhatikan jarak dari para partisipan. Seminar ini diselenggarakan pada Senin, 31 Oktober 2022 pukul 14.00 – 16.30 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus dan anggota Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa (KIKE), mahasiswa dan dosen dari berbagai universitas, serta partisipan dari sejumlah instansi di Indonesia.

Seminar Seri #1 dibuka oleh Mas Hafid Adim Pradana, M.A selaku Moderator. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Drs. Muhadi Sugiono, M.A, selaku Presiden KIKE. Beliau menjelaskan bahwa alasan dibalik perang Rusia dan Ukraina adalah untuk melindungi perbatasan Rusia dan mempertahankan pengaruh regional di Eropa Timur. Rusia sempat menginvasi Semenanjung Krimea pada tahun 2014, yang mengakibatkan kekerasan di Donbus dan pertempuran sengit di perbatasan Rusia-Ukraina yang kemudian berakhir dengan invasi total Rusia ke wilayah Ukraina.

Dalam Seminar Seri #1 ini mengundang tiga narasumber yang ahli dibidangnya.  Materi pertama disampaikan oleh Bapak Irwan terkait peran Uni Eropa dalam menanggapi agresi dan invasi Rusia ke Ukraina, beliau juga menjelaskan bahwa untuk menengok ke belakang dan melihat ke depan. Melihat ke belakang merupakan cara Uni Eropa melihat apa saja kebijakan dan tindakan yang sudah dilakukan Rusia kepada Ukraina dan melihat ke depan adalah bagaimana Uni Eropa akan memperluas pengaruhnya serta menjadi lebih kuat untuk dukungannya kepada Ukraina. Materi kedua disampaikan oleh Ibu Mutia terkait pasar biji-bijian global sangat terpukul oleh invasi Rusia ke Ukraina, beliau menjelaskan tentang lonjakan harga biji-bijian, yang telah dimulai bahkan sebelum perang.  Hal tersebut membuat negara-negara yang menggunakan biji-bijian sebagai sumber makanan utama menderita. Dalam hal energi, invasi militer Rusia ke Ukraina memungkinkan redistribusi strategis pasar energi, terutama di Eropa. Uni Eropa telah memutuskan untuk membatasi bagian Rusia dalam impor gas dan minyak. Meskipun akan cukup sulit bagi Eropa untuk sepenuhnya menghentikan impor gas dan minyak Rusia, tampaknya sebagian besar negara Eropa yakin untuk mengurangi sejumlah besar impor energi Rusia dalam 2 hingga 5 tahun ke depan.

Untuk materi ketiga disampaikan oleh Bapak Yusran terkait dampak dari perang terhadap global, beliau menjelaskan dampak ekonomi dari perang Rusia-Ukraina mungkin tidak sepenuhnya diketahui sampai akhir krisis, tetapi indikator ekonomi awal menunjukkan bahwa perang memiliki dampak yang signifikan terhadap ekonomi global. Hal ini menyebabkan penilaian positif terhadap PDB global, yang diperkirakan akan meningkat sebesar 4,4% pada tahun 2022. Invasi Rusia atas Ukraina memicu ketegangan geopolitik antara Rusia dan negara-negara Barat, sehingga menurunkan ekspektasi pertumbuhan global di tengah ketidakpastian dampak krisis terhadap rantai pasokan global. Sebagai akibat dari perang di Ukraina, akan ada guncangan pasokan dan harga komoditas dengan konsekuensi jangka panjang yang luas. Produksi, konsumsi, dan perdagangan komoditas akan berubah ketika negara-negara bergerak menuju swasembada yang lebih besar, menciptakan peluang bagi pemasok baru. Perang menyebabkan pola perdagangan yang lebih mahal dan pengalihan utama dalam perdagangan energi, dan prospek pasar komoditas sangat bergantung pada lamanya perang dan gangguan yang ditimbulkannya dalam rantai pasokan.

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu masuk kedalam sesi tanya jawab yang dipandu oleh Mas Hafid untuk memberikan kesempatan kepada partisipan pertanyaan atas penjelasan yang sebelumnya dijelaskan oleh ketiga narasumber. Para partisipan memberikan beberapa masukan dan pertanyaan terkait materi yang telah disampaikan oleh ketiga narasumber secara antusias. Setelah terdapat masukan dan pertanyaan, dilanjutkan respon dari ketiga narasumber terkait masukan dan pertanyaan dari beberapa partisipan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi penutup dan foto bersama.

Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh partisipan dan see u on another ocassion!