Negara-Negara Kecil, Strategi Besar Bagaimana Negara-Negara Mini Eropa Menulis Ulang Aturan Kekuasaan

Oleh Dubes Dr. Pribadi Sutiono

Dalam panggung besar hubungan internasional, kita telah terbiasa mengamati para pemain besar. Ketika pikiran kita beralih ke pengaruh global, secara naluriah pikiran kita tertuju pada koridor kekuasaan Washington, birokrasi Beijing yang luas, atau tembok Kremlin Moskow. Bahkan di dalam Eropa, kita memusatkan pandangan kita pada mesin ekonomi Berlin, kehalusan diplomatik Paris, atau kekuatan finansial London.

Namun, kita telah mencari di tempat yang salah. Drama sebenarnya, menurutnya, sedang berlangsung di antara para pemain yang begitu kecil sehingga hampir tidak terdaftar di peta mental kebanyakan orang.

 

Pandangan dari Kantor Duta Besar

Siprus pada tahun 2026 adalah sebuah negara yang begitu kecil sehingga bisa muat di wilayah metropolitan Jakarta beberapa kali lipat. Sebuah negara dengan hanya 1,3 juta penduduk, lebih kecil dari banyak kota di Indonesia, memegang jabatan presiden bergilir Dewan Uni Eropa. Namun di sinilah ia berada, menengahi perjanjian, menetapkan agenda, dan membentuk kebijakan yang memengaruhi setengah miliar warga Eropa.

Kecil itu indah. Tetapi dalam hubungan internasional, kecil tidak selalu menjadi batasan. Slovakia, sebuah negara Eropa lain yang jarang menjadi berita utama, berperan jauh di atas kelasnya. Negara ini memproduksi lebih banyak mobil per kapita daripada negara lain manapun di bumi. Kemampuan keamanan siber-nya melegenda. Dan diam-diam telah menjadi salah satu mitra Indonesia yang paling berharga di Eropa, menandatangani satu-satunya perjanjian kerja sama pertahanan di benua itu dengan Jakarta.

Pertanyaannya, bagaimana?

 

Tiga Jalan Menuju Pengaruh

Seperti kelas master dalam improvisasi strategis, negara-negara kecil Eropa telah mengembangkan tiga strategi bertahan hidup yang berbeda, masing-masing sangat sesuai dengan keadaan unik mereka, dan masing-masing membawa pelajaran yang sebaiknya diserap oleh Indonesia.

 

Manuver Institusional

Siprus memilih jalan pengaruh institusional. Tanpa kekuatan militer yang berarti dan ekonomi yang dapat ditelan seluruhnya oleh satu perusahaan Jerman, Siprus harus menemukan cara lain untuk menjadi penting. Jawabannya datang melalui Uni Eropa itu sendiri.

Dengan mengamankan kepresidenan Dewan Uni Eropa, Siprus memperoleh sesuatu yang tak ternilai harganya: enam bulan perhatian global. Enam bulan untuk menetapkan agenda. Enam bulan untuk memaksa negara-negara yang lebih besar untuk mendengarkan.

Siprus menggunakan posisi kepresidenan untuk meningkatkan profilnya. Mereka mendorong keras kerja sama pertahanan Eropa dan daya saing ekonomi. Tiba-tiba, semua orang harus memperhatikan pulau kecil ini.

Ini adalah langkah klasik negara kecil: memanfaatkan lembaga-lembaga yang dapat diakses untuk memperkuat suara mereka. Siprus memahami bahwa di Uni Eropa, setidaknya, kesetaraan formal di antara negara-negara anggota lebih dari sekadar fiksi yang sopan—itu adalah realitas yang dapat dieksploitasi.

 

Strategi Spesialisasi Ceruk

Negara-negara Baltik—Estonia, Latvia, dan Lituania—memilih jalan yang berbeda. Alih-alih mencari keunggulan institusional, mereka membangun keahlian kelas dunia di bidang-bidang yang tidak mudah ditiru oleh negara-negara yang lebih besar.

Kisah ini dimulai pada tahun 2007, ketika infrastruktur digital Estonia mengalami serangan siber besar-besaran, yang secara luas diyakini berasal dari Rusia. Alih-alih hanya memperbaiki kerusakan dan melanjutkan, Estonia membuat pilihan strategis. Mereka akan menjadi sangat ahli dalam keamanan siber sehingga tidak ada yang dapat mengabaikan mereka.

Ketiga negara ini telah mempertajam spesialisasi mereka ke satu bidang. Mereka menciptakan kedutaan data, mereka menjadi pusat saraf keamanan siber Eropa. Ketika perang Ukraina dimulai, merekalah yang memimpin pertahanan siber Eropa.

Latvia menjadi tuan rumah Pusat Keunggulan Komunikasi Strategis NATO. Infrastruktur digital Estonia kini dianggap sebagai salah satu yang paling aman di planet ini. Lithuania telah menjadi pusat kerja sama keamanan regional.

Kehebatan pendekatan ini terletak pada keberlanjutannya. Anda tidak membutuhkan tentara yang besar atau ekonomi yang luas untuk menjadi yang terbaik di satu bidang yang sangat khusus. Anda hanya perlu cerdas, fokus, dan gigih.

 

Hedging Multi-Arah

Slovakia mewakili sesuatu yang lebih kompleks, tindakan penyeimbang yang memerlukan ketangkasan diplomasi yang luar biasa. Negara ini berada di pusat geografis Eropa, sebuah posisi yang secara historis berarti terjebak di antara kekuatan-kekuatan yang saling bersaing. Daripada memihak, Slovakia justru menganut apa yang disebut Duta Besar Pribadi sebagai strategi “Empat Sudut Kompas”.

Slowakia tidak ingin lagi disebut Eropa Timur. Mereka bersikeras pada Eropa Tengah. Dan itu bukan sekadar kesia-siaan dan ini adalah pernyataan strategis.

Negara ini memelihara hubungan yang kuat dengan lembaga-lembaga Barat seperti NATO dan UE sekaligus membina hubungan dengan negara-negara Selatan, khususnya di Asia Tenggara. Ketika Menteri Luar Negeri Slovakia mengunjungi Kamar Dagang Indonesia baru-baru ini, beliau datang dengan membawa peluang: insentif investasi, keuntungan logistik, dan sambutan hangat yang mengejutkan bagi dunia usaha di Indonesia. Mereka melihat ke luar Eropa,” jelas Dubes Pribadi. Dan itu menciptakan ruang bagi mereka.

Hasilnya? Slovakia telah menjadi pintu gerbang Indonesia menuju benua tersebut. Hubungan bilateral tersebut telah menghasilkan 22 perjanjian aktif sejak tahun 2022, investasi Slovakia di Indonesia melonjak 277% pada tahun 2024, dan pekerja migran Indonesia di Slovakia meningkat dari hanya 150 menjadi 1.650 selama masa jabatan Dubes Pribadi.

 

Teori di balik Praktik

Kita perlu membalikkan pendekatan akademis yang standar. Daripada memulai dengan teori dan kemudian mencari contoh, kita perlu mengamati contoh-contoh tersebut terlebih dahulu dan kemudian bertanya: kerangka teori apa yang menjelaskan apa yang kita lihat?

Jawabannya adalah “realisme neoklasik”—sebuah istilah bagus untuk sebuah gagasan sederhana: tekanan sistemik disaring melalui politik dalam negeri. Secara sederhana, tantangan global menciptakan peluang, namun hanya jika kepemimpinan, lembaga, dan kepentingan nasional suatu negara selaras untuk meraih peluang tersebut.

Pertimbangkan Eropa sekarang. Benua ini terhuyung-huyung akibat krisis yang saling tumpang tindih: perang Ukraina, kekurangan energi, inflasi, dan meningkatnya ketegangan antara AS dan sekutu-sekutunya di Eropa. Tekanan-tekanan ini menghasilkan gelombang nasionalisme dan populisme di seluruh kawasan. Tekanan sistemik di Eropa sangat besar. Dan ini memaksa negara-negara kecil untuk beradaptasi dengan cara yang benar-benar menguntungkan kita.

Pergeseran Slovakia ke arah Dunia Selatan, misalnya, bukan hanya soal ideologi, tetapi soal kelangsungan hidup. Ketika Eropa berada dalam kekacauan, diversifikasi hubungan menjadi masalah keamanan nasional. Dan bagi Indonesia, hal ini menciptakan sebuah pembukaan yang luar biasa.

 

Peluang Indonesia

Pengusaha Indonesia perlu untuk menjajaki peluang di Slovakia. Namun rekomendasi ini hanya mendapat tatapan kosong. Kadang-kadang pengusaha kita hanya mengenal Belanda, Jerman, Paris, London. Ini menimbulkan frustrasi. Saat di=berityahu tentang Slovakia, para pengusaha justru bertanya, “Mengapa pergi ke sana? Apa gunanya?’”

Jawabannya terletak pada aritmatika dasar. Slovakia berada di pusat Eropa. Mendirikan pusat logistik di sana berarti akses ke seluruh pasar Eropa dengan biaya yang jauh lebih rendah. Biaya ekspor melalui Eropa Selatan hanya sepertiga dari biaya ekspor melalui Eropa Utara—sebuah perbedaan yang sangat penting ketika margin tipis.

Ada alasan Slovakia tidak mau lagi disebut Eropa Timur. Mereka telah berkembang pesat, dan mereka menawarkan syarat-syarat yang lebih menguntungkan dibandingkan negara-negara tradisional. Peluangnya bukan hanya ekonomi. Industri maju di Slovakia, manufaktur otomotif, keamanan siber, teknologi pertahanan, bioteknologi, menawarkan jalur bagi perusahaan dan institusi Indonesia menuju pengetahuan dan kemitraan mutakhir.

Hasilnya sudah bisa dilihat. Kolaborasi pabrik baterai, perjanjian kerja sama pertahanan, kemitraan keamanan siber dengan BSSN. Ini bukan sekadar selembar kertas. Mereka adalah kemitraan hidup yang menguntungkan kedua belah pihak.

 

Pelajaran yang Terlupakan

Kita masih berpegang pada peta mental yang sudah ketinggalan jaman. Para pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan bahkan akademisi di Indonesia sering kali mempunyai pandangan yang sangat terbatas terhadap Eropa. Kita memiliki kecenderungan untuk memperlakukan Eropa Timur sebagai sebuah monolit. Atau, lebih buruk lagi, kita bahkan tidak tahu di mana negara-negara ini berada. Namun negara-negara ini telah mengubah diri mereka sendiri, dan mereka menghubungi kita.

Indonesia sedang mengalami rasa berpuas diri yang berbahaya. Indonesia melihat dirinya sebagai sebuah negara besar, dan bertindak sesuai dengan pandnagan tersebut, mengandalkan ukuran dan sumber daya alam kami untuk menarik perhatian. Namun di dunia sekarang ini, pengaruh mengalir ke kelompok yang gesit, bukan hanya kelompok yang jumlahnya banyak.

 

Cara Melihat yang Baru

Berdasarkan dua puluh lima tahun pengalaman  dalam diplomasi, yang dibutuhkan saat ini adalah pragmatisme geopolitik. Dari Siprus hingga Slovakia, negara-negara kecil telah membuktikan bahwa pengaruh dibangun melalui pragmatisme, spesialisasi, dan jaringan—bukan sekadar kapasitas material.

Ini adalah pelajaran yang melampaui batas-batas Eropa. Di dunia di mana kekuasaan semakin menyebar, hierarki tradisional mulai runtuh, dan para raksasa semakin sulit mengendalikan permainan, para pemain kecil menunjukkan kepada semua orang bagaimana hal itu dilakukan. Bagi Indonesia, sebuah negara yang sering digambarkan sebagai negara yang “besar tapi belum besar”, implikasinya jelas: jika kita ingin menjadi berarti, kita perlu berpikir seperti negara-negara kecil. Kita perlu bersikap strategis, fokus, dan bersedia menjajaki kemitraan yang tidak konvensional.

Kita harus berhenti bertanya “Mengapa di sana?” dan mulai bertanya “Mengapa tidak?”

Muhadi Sugiono Attending the International Forum of Civil Society

 

This year marks the 80th anniversary of the atomic bombings of Hiroshima and Nagasaki. The network of Japanese NGOs, Japan Campaign to Abolish Nuclear Weapons, organized an international forum to abolish nuclear weapons with participants coming from Japan and abroad. Two representatives of the Nobel Peace Prize Laureates of 2017 and 2024, ICAN and Nihon Hidankyo, were among the participants and contributors in the forum. As a speaker, I participated in the forum discussing and promoting nuclear disarmament in East Asia. Another important agenda of the forum was a meeting with Japanese parliamentary members from different parties to discuss Japanese participation in the 3rd Meeting of the State Parties in New York in March 2025. After the end of the forum, I travelled to Hiroshima and Nagasaki at the invitation of the two cities’ NGOs. In the two cities, I visited the atomic bomb museums and peace memorial parks, met with cities’ mayors, gave talks as well as had dialogues with the hibakushas (the atomic bomb survivors) and the organizations engaged in the abolition of nuclear weapons. It was a privilege for me to have the opportunity to talk to and learn from the hibakushas and their organization, especially Nihon Hidankyo, the Nobel Peace Prize Laureate 2024 (Pict 6). They are the most authoritative to speak against nuclear weapons and contribute a lot to the demand for a world without nuclear weapons.

 

 

INFORMASI BEASISWA

WUJUDKAN MIMPIMU UNTUK KULIAH GRATIS DI EROPA DENGAN 4 BEASISWA BERIKUT!!

Hallo KIKE’ers! Kali ini Mimin akan membagikan informasi spesial bagi kalian yang tertarik untuk melanjutkan pendidikan tentang ke jenjang yang lebih tinggi di Eropa secara gratis nih! Oiyaa, perlu teman-teman ketahui kalau Eropa merupakan salah satu benua yang memiliki Negara-negara maju terbanyak di dunia, dan juga merupakan tempat munculnya ilmuan-ilmuan yang melahirkan temuan besar dalam berbagai bidang baik ilmu pengetahuan maupun teknologi (Quirin Schiermeier, 2019). KIKE’ers pasti tahu dong dengan presiden ke-3 Indonesia yakni Prof. Dr.-Ing. Ir. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng atau yang dikenal dengan sebutan B.J. Habibie. Mantan presiden ke-3 Indonesia tersebut pernah mengenyam pendidikan tinggi di Belanda yakni di Delft University of Technology, dan di Jerman tepatnya di RWTH Aachen University. Tentunya teman-teman juga ingin sekali bukan memiliki kesempatan seperti beliau untuk merasakan bagaimana dunia pendidikan dan kehidupan di Eropa? Untuk memudahkan teman-teman dalam mencari informasi tersebut, Mimin sudah siapkan beberapa informasi beasiswa  untuk S1, S2, S3 ke Eropa yang masih dibuka sampai sekarang. So, simak ulasannya sampai habis ya!!

1. Stipendium Hungaricum Scholarship, Hungaria 

University of Debrecen adalah salah satu kampus terbaik di Hungaria yang berdiri sejak tahun 1538 dan menjadi salah satu mitra dalam Stipendium Hungaricum Scholarship. (Foto: Instagram @universityofdebrecen_official)

Beasiswa Stipendium Hungaricum ini merupakan salah satu beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Hungaria untuk mahasiswa internasional yang ingin melanjutkan pendidikan jenjang S1, S2, S3 dan bahkan non-gelar. Beasiswa ini dibuat oleh pemerintah Hungaria dengan tujuan untuk mempromosikan pendidikan tinggi internasional di Hungaria untuk menarik mahasiswa asing terbaik dari seluruh dunia dengan menikmati pendidikan berkualitas di jantung Eropa. Manfaat dari beasiswa ini sendiri bagi mahasiswa asing yaitu para mahasiswa bisa menikmati biaya hidup yang terjangkau dengan rasio manfaat biaya yang cukup besar, lingkungan yang aman dan ramah dengan kehidupan budaya yang dinamis, serta transportasi umum yang nyaman. Pemerintah Hungaria berharap setelah lulus dari salah satu Universitas di Hungaria nantinya, mahasiswa internasional tersebut dapat kembali ke negara asal dengan keterampilan dan pengetahuan yang didapatkan dapat diaplikasikan dengan baik, serta bisa menjadi jembatan dalam membangun hubungan yang baik dengan Hungaria baik dalam bidang ekonomi, politik maupun bidang lainnya. Selain itu, ditahun ini Beasiswa Stipendium Hungaricum memberikan kabar gembira bagi pendaftar yang berasal dari Indonesia, Pemerintah Hungaria memberikan penambahan kuota tersebut sebanyak 10 kuota, yang semula 100 kuota kini menjadi 110 kuota bagi pelajar yang berasal dari Indonesia yang memiliki ketertarikan untuk melajutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Hungaria. Beasiswa ini bersifat Full + biaya hidup, akomodasi dan Kursus bahasa.

Syarat Beasiswa Stipendium Hungaricum

Setiap beasiswa biasanya memiliki kriteria atau persyaratan-persyaratan tersendiri, untuk memudahkan teman-teman, berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pelamar ketika akan mendaftar beasiswa Stipendium Hungaricum:

  1. Mahasiswa internasional serta mendapat rekomendasi dari lembaga pendidikan di negara asal (khusus pelamar dari Indonesia, harus mendapatkan rekomendasi Kemendikbudristek, untuk informasi ini silahkan kunjungi website atau sosial medianya untuk informasi lebih lanjut);
  2. Berusia minimal 18 tahun (pada saat dimulainya studi, selambat-lambatnya pada tanggal 31 Agustus 2022, kecuali untuk pendaftar dance arts). Sebenarnya tidak ada aturan program batasan usia maksimum, tetapi semua pelamar diwajibkan untuk bertanya terlebih dahulu kepada Mitra Pengirim untuk kriteria mereka sendiri mengenai batas usia;
  3. Memenuhi syarat kemampuan yang ditetapkan oleh perguruan tinggi di Hungaria;
  4. Mendaftar ke universitas dan jurusan yang ditawarkan oleh beasiswa;
  5. Tidak melebihi batas waktu yang sudah ditentukan yakni paling lambat pada tanggal 16 Januari 2023 pukul 14.00 (Waktu Eropa Tengah);

Persyaratan Dokumen

Seperti beasiswa pada umumnya, Beasiswa Stipendium Hungaricum sendiri terdapat beberapa persyaratan dokumen yang harus dipenuhi, berikut persyaratannya:

  1. Formulir pendaftaran online;
  2. Esai motivasi beasiswa (Motivation Letter), maksimal 4000 karakter berisikan pembukaan, isi dan penutup, ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Hungaria dan atau dalam bahasa lainnya sesuai yang ditawarkan oleh program studi yang akan di apply;
  3. Sertifikat kemampuan berbahasa Inggris (IELTS, TOEFL, atau sertifikasi kemampuan berbahasa Inggris lainnya yang diakui) atau kemampuan berbahasa Hungaria (sesuai ketentuan program studi pilihan pendaftar);
  4. Ijazah terakhir dan terjemahannya dalam bahasa program studi pilihan atau bahasa Hungaria
  5. Transkrip nilai dan terjemahannya dalam bahasa program studi pilihan atau bahasa Hungaria;
  6. Sertifikat prestasi akademik dan terjemahannya dalam bahasa program studi pilihan atau bahasa Hungaria;
  7. Surat keterangan sehat dan terjemahannya menggunakan format yang sudah ditentukan;
  8. Salinan Kartu Tanda Penduduk;
  9. Salinan paspor yang masih berlaku;
  10. Surat tanda terima pendaftaran;
  11. Portofolio atau Audio Portofolio untuk pendaftar program seni;
  12. Rencana penelitian dalam bahasa program studi pilihan (untuk pendaftar program S3);
  13. Dua surat rekomendasi dari pembimbing akademik atau supervisor dalam bahasa program studi pilihan (untuk pendaftar program S3).

Untuk informasi pendaftaran melalui laman :https://apply.stipendiumhungaricum.hu/

2. VLIR-ICP Master’s Scholarship Katholieke Universiteit Leuven, Belgia

Katholieke Universiteit Leuven adalah salah satu universitas riset katolik di Belgia tepatnya di kota Leuven, universitas ini berdiri sejak tahun 1425 dan menjadi salah satu universitas tertua di Belgia. Universitas Katolik Leuven ini juga menjadi salah satu universitas favorite baik bagi mahasiswa lokal maupun internasional. (Foto: Instagram @kuleuven)

Beasiswa ini merupakan salah satu program yang diberikan oleh salah satu universitas di kota Leuven Belgia yakni Katholieke Universiteit Leuven. Program beasiswa VLIR-ICP Master’s Scholarship ini menawarkan beasiswa untuk jenjang S2 untuk semua prgram studi yang ada di KU Leuven tersebut. Program beasiswa ini akan memberikan bantuan biaya uang kuliah, biaya hidup, biaya transportasi dan asuransi dengan durasi beasiswa yang bervariasi dan pada umumnya sekitar 1-2 tahun sesuai dengan program studi yang dipilih.

Syarat atau yang berhak mendaftar beasiswa ini

  1. Mahasiswa yang tidak sedang terdaftar di program studi yang ditawarkan oleh perguruan tinggi Belgia sebelum tanggal 1 Januari di tahun masuk universitas;
  2. Mahasiswa yang telah mendaftar program VLIR ICP akan otomatis diseleksi untuk beasiswa VLIR UOS apabila memenuhi persyaratan yang diberikan;
  3. Pendaftar yang tidak menerima beasiswa dari pemerintah Belgia sebelum mendaftar program beasiswa ini;
  4. Pendaftar yang belum pernah melakukan pendaftaran program beasiswa ICP Connect di tahun yang sama;
  5. Mahasiswa yang telah memenuhi syarat dan ketentuan untuk melakukan pendaftaran di salah satu program dengan gelar S2 di KU Leuven;
  6. Pendaftar yang berumur tidak lebih dari 35 tahun (untuk pendaftar program gelar S2 yang belum pernah menempuh pendidikan S2 sebelumnya) atau tidak lebih dari 45 tahun (untuk pendaftar program gelar S2 yang pernah mendapat gelar S2 sebelumnya) di tahun masuk universitas;
  7. Pemohon harus warga negara dan penduduk dari salah satu list 29 negara penerima beasiswa (tidak harus negara yang sama) pada saat melamar: Benua Afrika: Benin, Burkina Faso, Burundi, DR Kongo, Ethiopia, Guinea, Kamerun, Kenya, Madagaskar, Maroko, Mozambik, Rwanda, Senegal, Tanzania, Uganda, Zimbabwe, Afrika Selatan, Niger. Benua Asia: Kamboja, Filipina, Indonesia, Wilayah Palestina, Vietnam. Amerika Latin: Bolivia, Kuba, Ekuador, Haiti, Nikaragua, Peru;
  8. Pemohon harus memenuhi syarat untuk masuk ke program Magister yang dipilih di KU Leuven;
  9. Pendaftaran dibuka hingga tanggal 01 Februari 2023.

Adapun cara apply atau mendaftar beasiswa ini yaitu:

  1. Kunjungi terlebih dahulu website atau laman resmi dari KU Leuven dan kemudian baca seluruh informasi mengenai program beasiswa tersebut dengan teliti;
  2. Pastikan bahwa Anda telah memenuhi semua syarat dan ketentuan yang telah pihak beasiswa tentukan;
  3. Masuk ke laman aplikasi pendaftaran dengan cara mengklik bagian ‘Login to the web app’ dan lengkapi seluruh data atau form yang dibutuhkan;
  4. Buat pendaftaran baru dengan menekan tanda ‘+’ pada aplikasi pendaftaran;
  5. Lengkapi seluruh informasi yang dibutuhkan sesuai dengan syarat dan ketentuan;
  6. Pastikan anda menyimpan data yang telah anda masukkan di aplikasi pendaftaran dengan baik;
  7. Unggah seluruh dokumen pendaftaran yang dibutuhkan sesuai syarat dan ketentuan;
  8. Pada bagian bukti pembayaran, unggah dokumen yang disediakan di laman informasi beasiswa;
  9. Pastikan anda mengirimkan seluruh dokumen pendaftaran/aplikasi anda sebelum batas akhir pendaftaran program beasiswa ini (01 Februari 2023) sesuai waktu di kota Leuven, Belgia.

Informasi Tambahan Setelah Menyelesaikan Aplikasi Pendaftaran

  1. Berkas pendaftaran yang telah masuk akan diseleksi oleh pihak akademik selama sekitar 8 minggu;
  2. Pendaftar akan mendapat pengumuman hasil seleksi melalui email;
  3. Peserta yang lolos seleksi berkas akan mengikuti seleksi tahap kedua;
  4. Hasil seleksi akhir akan diumumkan di laman resmi beasiswa pada sekitar minggu terakhir bulan Mei 2023;
  5. Peserta bisa memantau proses seleksi dengan memeriksa aplikasi yang digunakan untuk pendaftaran.

Untuk informasi pendaftaran melalui laman : https://www.kuleuven.be/english/application/instructionsvliricp

 

3. Beasiswa Penuh Excellence Scholarship and Opportunity Programme (ESOP) oleh ETH Zurich, Swiss

Eidgenössische Technische Hochschule Zürich atau yang dikenal dengan sebutan ETH Zürich merupakan salah satu kampus yang didirikan oleh Swiss Federal Government pada tahun 1854. ETH Zürich juga merupakan salah satu kampus yang sering memberikan beasiswa untuk mahasiswa internasional dari seluruh dunia, salah satunya adalah beasiswa Excellence Scholarship and Opportunity programme (ESOP). (Foto: Instagram @ethzurich)

Program beasiswa Excellence Scholarship and Opportunity programme (ESOP) ini merupakan salah satu program beasiswa yang diberukan oleh salah satu Universitas di Swiss yang bernama Eidgenössische Technische Hochschule Zürich (ETH Zürich) atau dalam bahasa Indonesianya adalah Institut Teknologi Konfederasi Zürich. ETZ Zurich ini memberikan kesempatan beasiswa fully funded untuk mereka yang ingin melanjutkan pendidikan master atau S2 di Swiss. Beasiswa ini akan diberikan selama masa program S2 yakni sekitar 3 sampai 4 semester. Mahasiswa yang mendapatkan program beasiswa ini akan mendapatkan keuntungan berupa bantuan biaya kuliah penuh, bantuan biaya hidup yang akan diberikan selama proses studi dan bantuan biaya studi lainnya sesuai keperluan yang akan diberikan setiap semesternya. Program beasiswa ini sendiri menawarkan banyak program studi mulai dari consecutive master dan specialized master. Untuk informasi lebih lanjut, yuk simak syarat dan ketentuan yang akan mimin jelaskan sebagai berikut!

Syarat atau ketentuan untuk mendaftar beasiswa ini:

  1. Mahasiswa dengan nilai yang bagus selama studi S1, 10% teratas dari program studi S1 yang ditempuh atau setara dengan nilai A;
  2. Peserta yang bukan merupakan mahasiswa program studi dengan gelar S2 di ETH Zurich;
  3. Mahasiswa yang belum pernah lulus dari program studi dengan gelar S2 sebelumnya;
  4. Peserta yang memenuhi persyaratan dan ketentuan pendaftar program studi dengan gelar S2 di ETH Zurich yang dipilih;
  5. Mendaftar sebelum deadline yakni sampai 15 Desember 2022 pukul 12.00 Waktu Eropa Tengah (CET) (GMT+1) atau pukul 06.00 WIB (Waktu Indonesia Barat).

Dokumen-dokumen yang harus disiapkan

  1. Rancangan proposal untuk tesis program S2 sesuai dengan panduan yang tertera di laman informasi program;
  2. Curriculum Vitae (CV) dengan nomor telepon yang aktif;
  3. Dokumen lainnya yang dibutuhkan untuk pendaftaran masing masing program studi yang dipilih.

Berikut cara mendaftar beasiswa ESOP ETH Zurich

  1. Kunjungi laman resmi ETH Zurich, kemudian baca dan periksa seluruh informasi yang diberikan mengenai pendaftaran program beasiswa ESOP beserta syarat dan ketentuannya dengan teliti;
  2. Pastikan bahwa anda telah memenuhi seluruh syarat dan ketentuan sebagai mahasiswa program S2 di ETH Zurich dan penerima beasiswa ESOP sebelum melanjutkan ke tahap proses registrasi;
  3. Kunjungi laman utama informasi beasiswa ESOP, kemudian klik bagian eApply dan kemudian anda akan diarahkan ke laman pendaftaran program ETH Zurich;
  4. Klik daftar akun baru dengan menggunakan alamat email yang masih aktif;
  5. Masuk ke akun menggunakan email dan password yang telah didaftarkan sebelumnya;
  6. Lengkapi seluruh form data dan dokumen yang tertera di formulir pendaftaran program studi yang dipilih;
  7. Kumpulkan formulir pendaftaran sebelum batas akhir pendaftaran program beasiswa ini.

Informasi Tambahan Setelah Mendaftar

Setelah proses pendaftaran, anda perlu memperhatikan informasi tambahan berikut:

  1. Proses seleksi awal akan dilakukan oleh panitia pendaftaran dari program studi yang dipilih oleh anda;
  2. Beberapa pendaftar mungkin akan menerima undangan untuk mengikuti wawancara melalui Telepon atau Platform lainnya yang nantinya akan diinfokan oleh pihak beasiswa di sekitar bulan Februari 2023;
  3. Seleksi akhir akan dilakukan oleh rektor ETH Zurich;
  4. Hasil akhir seleksi akan diumumkan pada sekitar akhir bulan Maret baik melalui Email atau Aplikasi anda.

Untuk informasi lebih lanjut dan informasi pendaftaran melalui laman : https://ethz.ch/students/en/studies/financial/scholarships/excellencescholarship.html

4. Beasiswa Penuh DCLead Erasmus Mundus, Eropa

Wageningen University & Research merupakan salah satu kampus di Belanda yang terletak di kota Wageningen. Universitas ini merupakan salah satu universitas yang masuk kedalam 100 universitas terbaik di dunia dan menariknya, Wageningen University & Research ini terletak disebuah lokasi yang bernama Food Valley yaitu sebuah area yang ditempat oleh sejumlah perusahaan multinasionalyang bergerak dibidang industri makanan. (Foto: Instagram @uniwageningen)

Program Beasiswa Digital Communication Leadership (DCLead) merupakan bagian dari program Erasmus Mundus Joint Master Degree (EMJMD) yang menawarkan program beasiswa untuk mereka yang tertarik melanjutkan pendidikan ke jenjang Master atau S2 di Eropa. Menariknya program ini menawarkan pelajar atau mahasiswa untuk belajar di 2 Universitas berbeda dalam menempuh pendidikan masternya. Bukan cuman itu saja, program ini juga menawarkan uang saku bulanan dengan jumlah yang berbeda sesuai program yang diambil, bantuan uang kuliah penuh, biaya transportasi, biaya instalasi (hanya untuk penerima beasiswa erasmus +), asuransi, pengembalian uang deposit dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang dibuat oleh Erasmus seperti kegiatan Simposium di musim panas. Program studi yang ditempuh relatif sama dengan program studi master pada umumnya, yakni 4 semester atau sekitar 2 tahun. Sementara itu, Program studi yang ditawarkan seperti Digital Communication, Policy, and Innovation in Europe (POLINN), Digital Technology and Management (TECMAN), dan Information and Communication Technology for Development (ICT4D).  Dalam program tersebut, mahasiswa akan belajar selama empat semester di empat universitas ternama, dimana satu semester studi di Paris Lodron University of Salzburg, Austria, pada semester kedua dan ketiga mahasiswa akan belajar di salah satu universitas yang berpartisipasi, antara lain seperti  Aalborg University Copenhagen di Denmark, Vrije Universiteit Brussel di Belgia, dan Wageningen University & Research di Belanda tergantung program studi yang mereka pilih. Pada semester keempat selama program tesis, mahasiswa akan mengikuti salah satu mitra akademik DCLead atau mitra magang di berbagai negara. Lalu bagaimana caranya untuk mendaftar beasiswa ini? Yuk simak penjelasan Mimin dibawah ini terkait syarat dan ketentuannya ya!!

 Syarat untuk Apply Beasiswa ini

Sebelum ke syarat-syarat, Mimin mau jelasin nih kalau beasiswa ini dibagi menjadi 3 program beasiswa dan setiap beasiswa atau programnya memiliki kriterika kelayakan yang berbeda-beda. So simak dengan baik ya!!

Untuk beasiswa negara program Erasmus +:

  1. Warga negara negara program DCLead, termasuk Austria, Belgia, Bulgaria, Kroasia, Siprus, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Liechtenstein, Lituania, Luksemburg, Malta, Belanda , Norwegia, Polandia, Portugal, Rumania, Republik Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Makedonia Bekas Republik Yugoslavia, dan Turki;
  2. Warga negara program yang belum tinggal lebih dari 12 bulan di negara mitra dalam waktu 5 tahun sebelum batas waktu pendaftaran.

Untuk beasiswa negara mitra Erasmus + :

  1. Warga negara yang tidak termasuk dalam daftar negara program;
  2. Warga negara program yang tinggal lebih dari 12 bulan di negara mitra dalam waktu 5 tahun sebelum batas waktu pendaftaran.

Untuk kedua program (program Erasmus+ dan program beasiswa negara mitra):

  1. Kandidat yang belum mendaftar lebih dari 3 Program Magister Bersama Erasmus Mundus pada tahun akademik yang sama;
  2. Pelamar yang tinggal di negara yang sama dengan program ini diperbolehkan untuk mendaftar, tetapi mereka tidak akan menerima tunjangan bulanan dari beasiswa;
  3. Pelamar yang mendaftar sebagai siswa yang didanai sendiri diizinkan untuk mendaftar dan akan dipertimbangkan untuk kedua beasiswa.

Untuk Beasiswa DCLead:

  1. Kandidat yang mendaftar untuk program DCLead sebagai siswa yang didanai sendiri (Self-funded students).

Dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan

  1. CV;
  2. Ijazah dan Transkip Nilai dengan terjemahan bahasa Inggris yang bersertifikasi jika sebelumnya Ijazah atau Transkipnya tidak dikeluarkan dalam bahasa Inggris oleh Universitas tempat anda lulus jenjang S1/S2 sebelumnya;
  3. Motivation Letter (Motlet);
  4. 2-3 Surat Rekomendasi dalam Bahasa Inggris;
  5. Sertifikat profisiensi Bahasa Inggris.

Note: Semua dokumen yang diperlukan harus diserahkan dalam satu file PDF dengan ukuran tidak lebih dari 14 MB.

 

How To Apply This Programme?

  1. Kunjungi laman resmi dari DCLead dan baca semua informasi yang diberikan dengan baik dan teliti;
  2. Pastikan bahwa Anda memenuhi semua syarat untuk mengajukan beasiswa ini sebelum melanjutkan ke proses pendaftaran;
  3. Klik tombol “Apply Now” yang tersedia di bagian bawah halaman informasi utama DCLead;
  4. Mengisi form atau formulir aplikasi dan mengunggah semua dokumen yang diperlukan berdasarkan syarat dan persyaratan yang telah ditentukan;
  5. Kirimkan aplikasi Anda sebelum deadline 6 Desember 2022 pukul 11:00 Waktu Eropa Tengah (CET);
  6. Pelamar yang memenuhi syarat akan menerima email pembayaran deposit yang akan dikembalikan jika pelamar tidak terpilih;
  7. Pelamar akan menerima email undangan untuk menghadiri wawancara online sekitar akhir Januari. Wawancara akan dilakukan selama sekitar 40 menit hingga 1 jam dan beberapa pelamar mungkin diundang untuk wawancara kedua;
  8. Beberapa dokumen tambahan mungkin diperlukan untuk proses penerimaan;
  9. Pengumuman kelulusan pelamar akan disampaikan baik melalui Email atau Aplikasi pelamar.

Untuk informasi lebih lanjut dan informasi mengenai pendaftaran melalui laman : https://dclead.eu/scholarships-fees/scholarships/

Tips atau Saran Sebelum Melamar Beasiswa:

Nah KIKE’ers, informasi ini tak kalah pentingnya dengan informasi-informasi yang sudah mimin jelaskan diatas ya. Mimin mau berbagi informasi kepada teman-teman semua terkait tips dan saran sebelum melamar beasiswa, simak dengan baik ya!

  1. Rajin melihat Mimin sangat menyarankan kepada teman-teman semua harus benar-benar bisa melihat timeline dengan baik ya, mimin sarankan juga untuk membuat timeline persiapan untuk melamar beasiswa, misalnya mempersiapkan dokumen-dokumen minimal 3 bulan sebelum beasiswa dibuka agar saat beasiswa mulai dibuka teman-teman bisa mengisi aplikasi dengan baik dan tidak tergesa-gesa.
  2. Perbanyak mencari informasi untuk beasiswa yang diinginkan. Usahakan teman-teman mencari banyak informasi terkait beasiswa yang diinginkan melalui banyak platform baik melalui internet, youtube, instagram, seminar atau webinar dan teman-teman juga sangat disarankan untuk bertanya kepada para alumni peraih beasiswa yang teman-teman inginkan, caranya teman-teman bisa menghubungi akun sosial media Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) wilayah sesuai keinginan kalian, misalnya teman-teman ingin mencari informasi terkait negara Belanda khususunya di kota Wageningen teman-teman bisa hubungi Instagramnya @ppi.wageningen.
  3. Persiapkan dokumen-dokumen sebaik mungkin. Bagian ini sangat penting, dimana mimin sangat menyarankan teman-teman untuk menyicil dokumen-dokumen persyaratan dari jauh-jauh hari, agar ketika beasiswa dibuka teman-teman tidak keteteran untuk mengejar timeline beasiswanya. Salah satu dokumen yang ingin mimin highlight yaitu Sertifikat bahasa Inggris dan paspor. Teman-teman yang belum memiliki sertifikat bahasa asing atau bahasa inggris seperti TOEFL atau IELTS, bisa mempersiapkannya dengan jauh-jauh hari, dan jangan salah pilih instansi tempat tesnya, karena sepengetahuan mimin biasanya pihak beasiswa akan memberikan rekomendasi tempat untuk tes dan sertifikat yang diakui oleh mereka seperti apa. So, perhatikan dengan baik ya informasi yang diberikan oleh pihak beasiswa. Selain itu, bagi yang belum memiliki paspor, teman-teman bisa membuatnya dari sekarang, biaya pembuatan paspor sangat terjangkau dan prosedur yang sudah lebih mudah. Saran dari mimin, selain mempersiapkan dokumen-dokumen penting seperti Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Tanda Mahasiswa bagi yang masih kuliah untuk pembuatan paspor, teman-teman bisa membawa surat pengantar dari instansi tempat bekerja, organisasi atau dari kampus untuk diserahkan saat proses interview dengan pihak Imigrasi, dan yang terpenting adalah teman-teman harus menjawab pertanyaan dengan jujur, dan jangan lupa harus banyak mencari infromasi baik melalui laman resmi kantor imigrasinya atau melalui akun sosial medianya ya! Terima kasih banyak atas perhatian dan sudah membaca tulisan ini, semoga bermanfaat dan sukses terus KIKE’ers!

REFERENSI

Dc Lead. (2022).”Scholarship Informations”  https://dclead.eu/scholarships-fees/scholarships/

ETH Zurich. (2022).”Excellence Scholarship & Opportunity Programme” https://ethz.ch/students/en/studies/financial/scholarships/excellencescholarship.html

KU Leuven. (2022).Application instructions for VLIR-ICP Master’s scholarships” https://www.kuleuven.be/english/application/instructionsvliricp

Schiermeier, Quirin. (2019).”Europe is a top destination for many researchers”. https://www.nature.com/articles/d41586-019-01570-3

Stipendium Hungaricum. (2022).“Application Guide for Stipendium Hungaricum Scholarship” https://apply.stipendiumhungaricum.hu/

The German Marshall Fund of the United States Erasmus Funded Brussels Trainee

Job Summary:
The German Marshall Fund of the United States, Brussels Office is accepting on a rolling basis traineeship applications to help with its programming activities. Candidates must be eligible for Erasmus + program funding provided by their universities, or other similar grants through their governments/national institutions . Learn more about the Erasmus + funding opportunity by the European Commission here (http://ec.europa.eu/programmes/erasmus-plus/index_en.htm) and consult your university.
It is the candidate’s responsibility to inquire with their university regarding eligibility prior to applying for the position.The German Marshall Fund of the United States_ does not bear any responsibility in initiating the Erasmus + funding procedure._
The trainee will work closely with senior GMF staff to provide research, logistical and administrative support. Trainees will be on flexible work plans where they assist multiple programs based on their background and interests and the program’s availability and needs.The traineeship is a unique opportunity to be in close contact with the international policy community. Trainees can benefit from the Brussels environment and attend various EU related events. Trainees will also receive insights into office administration, database and events logistics.
Candidates must be eligible for Erasmus+ program funding, or other similar grants.
Key Areas of Responsibility:

  • Providing administrative and operational support for the GMF Brussels office programing on issues pertaining to EU affairs, transatlantic relations and foreign policy;
  • Assisting in the organization and coordination of Brussels based events, as well as broader GMF convening activities;
  • Conducting background research and writing internal memos for various projects;
  • Preparing talking points and preparatory materials for GMF fellows and senior staff ahead of meetings and speaking engagements;
  • Helping maintain the Brussels office’s and relevant program’s database of contacts;
  • Assisting with administrative and logistical duties as assigned.

Qualifications and Requirements:

  • Academic background in international relations and/or European studies, with at least a fully completed bachelor’s degree;
  • Strong interest in transatlantic policy issues;
  • Familiarity with European institutions desired;
  • Fluency in English. Second language skills in French, German or a third European language is a plus;
  • Excellent written and oral communication skills;
  • Proficiency with Microsoft Office (Word, Excel, and Outlook) is essential;
  • Flexibility to multi-task, have an eye for detail, ability to perform under tight deadlines and work independently;
  • Previous experience in a think tank, foundation, NGO, government body, media outlet, or similar organization desired, but not required;
  • Experience in event management is a plus;
  • Good interpersonal skills and ability to work in a multicultural environment.
  • *Start and Length of Traineeship:

GMF’s Brussels office offers three starting dates for traineeships:

  • January (Winter Selection) – Deadline for application: October 1
  • May (Spring Selection) – Deadline for application: February 1
  • September (Fall Selection) – Deadline for application: June 1

Candidates can only apply to one selection period at a time, to be explicitly mentioned in the application. All traineeships last 6 months.
Due to the high volume of responses, we will only contact candidates of interest.
GMF is an Equal Opportunity Employer.

 

Apply Here

Internship European External Affairs

Looking for a challenging internship in European External Affairs starting around January, February or March 2022. It’s time to apply!


Who are we?

At Unilever, we share one simple purpose: To make sustainable living commonplace. Through our powerhouse brands such as Dove, Axe and Magnum, we are creating a bright future for our business and our planet –and you can be part of it!

We believe that companies with purpose last, people with purpose thrive and brands with purpose grow. We meet everyday needs for nutrition, hygiene and personal care with brands that help people feel good, look good and get more out of life.

Main purpose of theinternship:

We are looking to recruit an energetic intern in our European External Affairs Office in Brussels to support the team in driving this agenda at the EU institutions and other European stakeholders.

Working in the field of Foods & Refreshment, Home Care and Beauty & Personal Care – Unilever’s three core businesses – the intern will contribute to:

  • Performing background research and analysis on emerging issues;
  • Performing research and analysis on the position and activities of key stakeholders;
  • Monitoring regulatory, legislative and political processes of interest to Unilever;
  • Drafting advocacy materials, press reviews and organizing events.

The intern will have the opportunity to:

  • Be exposed to the functioning of a fast-moving and multi-sectoral international company;
  • Contribute to the challenges and opportunities in integrating sustainability into our business;
  • Experience the importance of public affairs, both in terms of challenges and opportunities, for the achievement of Unilever’s vision: Doubling the size of ourbusiness whilst reducing our overall environmental impacts across the entire value chain;
  • Learn from a team of experienced public affairs practitioners, working on a wide variety of current and emerging issues;
  • Drive your own projects within the context of the European External Affairs team responsibilities, based on (developed) personal interest.

What we ask:

  • The internship must take place in the framework of a University degree, ideally a Master’s degree in European Law, International Politics, European Studies or equivalent
  • The intern must be registered as a student during the whole duration of the internship
  • English fluently written and spoken is a must, good knowledge of Dutch, French or German would be an asset
  • The internship would last for a duration of about 6 monthsfull-time(orat least 32 hours a week)
  • You are a team player with a strong sense of responsibility
  • You are a self-starter, able to work autonomously
  • You are able to work with a diversity of people and teams

What we offer:

  • An outstanding chance to bring our unique purpose to life!
  • An opportunity to take a look behind the scenes at one of the biggest FMCG-corporations in the world.
  • An opportunity to learn from a variety of concrete projects.
  • Lots of responsibility, but also good guidance during your internship.

EXCITED ABOUT THE ROLE?

To apply, please send your CV and a motivation letter where your preferred internship topics, internship duration and ideal start date are highlighted.

Source: https://www.glassdoor.com/Job/brussels-international-affairs-internship-jobs-SRCH_IL.0,8_IC2302160_KO9,41.htm

European Astronaut Centre (EAC), Space Medicine Team – Internship opportunities

Location(s)

France

Based at the European Astronaut Centre (EAC), ESA’s Space Medicine Team comprises medical doctors, biomedical engineers, exercise physiologists, psychologists, IT specialists, education coordinators, administrators and project managers. Each plays a vital role in ensuring the health and well-being of astronauts during all stages of a mission.

To better support astronauts during current missions to the International Space Station and prepare for human missions beyond low Earth orbit, the Space Medicine Team is working to identify, evaluate and develop new space technologies and procedures.

This process involves collaborating with ESA’s technology teams and Human Research Office to identify existing space-relevant technologies and scientific knowledge, and looking outside of ESA at terrestrial technology developments and the wealth of current science knowledge concerning human health.

To achieve their goal, the Space Medicine Team works in close partnership with national space agencies, industry, research institutions and universities from across ESA’s Member States. The team also regularly coordinate workshops for the next generation of space physicians.

Internship opportunities

In support of the space medicine team, and international space medicine, REDI (Research, Education & Development Initiative) through academic collaboration and educational partnerships seeks to promote technical (research and development), and individual (education and training) readiness for current, and future human space missions.

As part of this initiative, we offer a limited number of internship places each year to students of medicine, the biomedical sciences (including exercise science) or biomedical engineering and – where appropriate – those with specific expertise in analytics/programming or educational/outreach.

Our internship projects may involve the collection and/or the analysis of medical/research data (in collaboration), performance of systematic literature reviews, elements of medical hardware evaluation/development, database management, or the generation of analytical models/simulations.

 

Our internships are within the following domains:

  • Identification and evaluation of medical risks (including radiation) associated with Low Earth Orbit and Deep Space vehicles/habitats.
  • Optimisation of in-flight exercise countermeasures (for ISS and Exploration).
  • Evaluation and optimisation of non-exercise management of astronaut health.
  • Identification, development, validation and implementation of medical technologies and strategies to mitigate medical risks associated with spaceflight.
  • Optimisation of post-flight rehabilitation strategies.
  • Evaluation of the suitability and applicability of ground-based analogues of micro- and hypogravity.
  • Identification and evaluation of medical risks and requirements associated with hypogravity (lunar) operations.
  • Development, delivery and accreditation of international space medicine education/training.

In order to optimise productivity and applicability, we encourage the use of a range of open-source tools. Please highlight in your application if you have expertise/experience in the use of:

  • Rayyan: for systematic reviews.
  • Mendeley: for Citation management.
  • Python(or MatLab, R or SPSS): for data/statistical analysis.
  • OpenSim/Anybody: for biomechanical simulation.

In addition, please highlight any experience in educational/outreach delivery/development, database management, programming or physiological data capture/analysis.

Students of medicine should note that the space medicine team is not a clinical environment, and that due to the highly confidential nature of our flight surgeons’ activities, it is not possible to involve students in day-to-day astronaut medical support.

The minimum duration of an internship with the space medicine team is three months. However, six-month internships are considered optimal.

Deadline: November 30, 2022

Cost/funding for participants

Fully Funded

 

Source: https://www.heysuccess.com/opportunity/European-Astronaut-Centre-(EAC)-Space-Medicine-Team-Internship-opportunities-57829

31st European regional conference of the International Telecommunications Society

31st European regional conference of the International Telecommunications Society

Reining in Digital Platforms? Challenging monopolies, promoting competition and developing regulatory regimes

20th –22nd June 2022, Gothenburg, Sweden

There are many benefits associated with ICT. The pandemic has vividly demonstrated the benefits of ICT, which enabled many activities to go online. Without widespread ICT availability and adoption, it would not have been possible for large parts of economies to work from home or for students to be educated online . And online shopping, which among other things has allowed groceries to be ordered remotely, has grown in popularity in many countries. Quite simply, without ICT the pandemic would have been very different experience.

But there are also problems. Many ICT markets are highly concentrated, with one large company dominating the market. These ‘winner takes all’ (or most) markets are driven by network effects and scale economies, where large numbers of users generate competitive advantages that are difficult for rivals to overturn. It is perhaps no surprise that four out of the five most valuable companies globally are technology based, with Apple and Microsoft currently being capitalised at over $2 trillionaire apiece. The growth of Amazon, which has catapulted its founder, Jeff Bezos, to become the world’s richest man, overtaking another tech company founder in the process.

As tech companies have grown and increased in value, the resources available to them have multiplied. Many of the leading tech companies have engaged in frequently and ambitious M&A activity, acquiring through what is often described as a ‘Pac man’ strategy their rivals, actual or potential. Through these purchases tech companies have sought to entrench their positions, thereby strengthening their dominance in markets.

Over the years, tech companies have attracted considerable attention. Their tax arrangements have been criticised, especially in those countries where they have grown at the expense of local companies or where they are viewed as not contributing their ‘fair share’ of taxes. The new global framework, co-ordinated by the OECD, appears to be a step in the right direction when it comes to addressing the concerns of government, but it is too early to tell whether it address the concerns of others.

And their business models have come under intense scrutiny. The European Union has, in recent years, imposed fines on Alphabet due to its anti-competitive behaviour. While these fines amount to almost €10 billion, they are dwarfed by the financial resources available to Alphabet – this throws into doubt their effectiveness in changing’s Alphabet’s behaviour. In the UK, the initial enquiry by the Competition & Markets Authority into Facebook’s purchase of Giphy found that it could harm competition. The on-going in-depth review of the purchase could force Facebook to sell the company to someone else. In the United States, the House Judiciary Committee in 2020 suggested structural separation as one of the tools though which the anti-competitive nature of the big tech business models could be checked.

Data is at the heart of the business models of many big tech companies. Through collecting, combining and analysing data from multiple sources in unprecedented amounts, big tech companies have been able to develop innovative services that are popular with users. But increasingly individuals are concerned about the data they are providing and how it is being used, frustrated by their inability to control who has access to it and how it is used. Governments have sought to provide those who provide data with greater control over it, but differences exist between counties in how they treat data. But what else can governments do? Can data interoperability be implemented, thereby allowing users to switch between companies, or can greater control be given to data providers?

Governments are also developing policies to capture the benefits of the data based economy that is emerging. Industrial policies are emerging that seek to provide countries with the necessary digital infrastructure, thereby enhancing the country’s competitiveness. Some of these policies have focused on the physical infrastructure, such as fibre roll-out or cloud computing, while

Governments have also sought to develop policies to capture the benefits of the data based economy that is emerging. Industrial policies are emerging that seek to provide countries with the necessary digital infrastructure to enhance their competitiveness, with some initiatives focusing on the physical infrastructure while others have concentrated on data. In an increasingly global economy, are individual countries able to improve their cloud or data sovereignty? Are some policies better suited to enhancing a country’s competitiveness?

As big tech comes under greater scrutiny, a number of questions emerge. Should big tech companies be broken up? If so, how should they be broken up and which governments should take the lead? If they are not to be broken up, what should governments do instead? Does a series of new regulatory tools and approaches need to be developed, and then implemented in a co-ordinated (global) approach by governments? Or should governments and regulators concentrate on data, focusing on enhancing user privacy or providing them with greater control over their data.

We welcome submissions on ‘digital platforms’ in terms of the regulatory and competitive challenges that they pose, and how they may be addressed in a post-Covid world. In addition, we welcome submissions on a range of topics as outlined below:

  • The current and lasting impact of Covid-19 on telecommunications networks, different industries and users
  • The roll-out of 5G and the emergence of (innovative) business models
  • The Internet of Things – verticals, innovative business models and revenue sources
  • Digital divides – their changing nature and how they can be overcome
  • Digital skills – identifying and then providing the skills needed to participate online, for individuals and businesses
  • The use of ICT by marginalised groups
  • Operator strategies – bundling, fixed-mobile and content-telecommunications convergence
  • The role of consumers within telecommunications markets
  • OTT – strategies and impact on the telecommunications sector
  • The socio-economic impact of new technologies (e.g., IoT, AI, blockchain)
  • Greening the ICT sector – strategies, regulation and the impact of technological innovation
  • The role of ICT in addressing and achieving Sustainable Development Goals
  • The scope and nature of universal service in telecommunication markets
  • Innovative ways of providing telecommunications infrastructure in remote and rural areas
  • Standards within telecommunication markets
  • Equipment suppliers – supply chain dynamics, Open RAN and 5G

Submissions addressing any other subject relating to telecommunications technologies and markets are also welcome. Theoretical and empirical papers are welcome, as are methodologically qualitative and quantitative papers.

Important dates:

 7 January 2022: Deadline for abstracts and panel session suggestions
 1 February 2022: Notification of acceptance
 16th May 2022: Early registration deadline
 10th June 2022: Deadline for final papers
 19th June 2022: Welcome receptione
 20th – 22nd June 2022: Conference

We hope to offer a face-to-face conference next year. Given the current uncertainties, a final decision will be made in early-2022.

Submission of abstracts:

Abstracts should be about 2 pages (800 to 1000 words) in length and contain the following information:

  • Title of the abstract / panel session
  • A clear statement of the research question
  • Remarks on the methodology adopted in the paper
  • Outline of (expected) results
  • Bibliographical notes (up to 6 key references used in the paper)

Abstracts should be submitted via EasyChair.

If you do not already have an account, you will need to create one. Existing accounts can be used to submit your abstract.

Please submit your abstract via:

https://easychair.org/conferences/?conf=its2022

ll abstracts will be subject to blind peer review.

Call for Papers: Central European Economic Journal

Call for Papers: Central European Economic Journal

Gender and Parenthood in the context of Public Policy

Deadline

Tue, 03/15/2022 – 12:00

Motivation

Women in different countries face different challenges in the labour market due to historical, institutional, and cultural specificities. For this reason, policies which were successful in improving gender equality in one country might not bring the desired outcomes in another country. To tailor labour market policies, it is important to gain an accurate picture of how the historical, institutional, and cultural characteristics impact the effectiveness of various policies aimed at decreasing gender inequalities. With this call for papers, they invite research which addresses the situation of women in the labour market of different countries, paying special attention to the factors which influence women’s employment, occupation, and earnings. They welcome empirical research addressing any aspect of these relationships that contributes to our knowledge of these phenomena and has relevant implications for regional policymaking. Single country as well as comparative studies are welcome with a special focus on Central and Eastern European countries, which display growing heterogeneity in women’s performance in the labour market and which are still poorly understood.

Why submit to the CEEJ?

Central European Economic Journal publishes original theoretical and empirical research papers in the field of economics as well as at the intersection of economics and sociology, demography, political science, law and management. The journal accepts papers which fall under (but are not restricted to) the following research areas: macro- and microeconomics, labour market research, international trade, population studies, public sector economics, public policies, health, gender, ecological economics, finance, accounting, managerial economics. CEEJ addresses the broad international community, but especially welcomes papers which focus on socio-economic problems relevant for Central and Eastern Europe, including the European transition countries.

  • The CEEJ is an open access, double-blind peer-reviewed journal, free of charge, available at the Sciendo/DeGruyter Open Platform and at www.ceej.wne.uw.edu.pl . The CEEJ offers:
  • Open access to all published articles;
  • Transparent, comprehensive and fast double-blind peer-review process;
  • Convenient and widely known web-based manuscript submission and tracking system (ScholarOne);
  • Access to an efficient route for fast-tracking publication, taking full advantage of Sciendo’s publishing platform with language verification;
  • Free submission of papers and no charge for the article processing charges (APCs).

Submission

To submit your manuscript, use their ScholarOne system  https://mc.manuscriptcentral.com/ceej

In the cover letter inform them that your manuscript is submitted as part of Call for Papers with Guest Editors Anna Lovasz and Barbara Pertold-Gebicka.

The deadline for submitting papers is 15th March 2022

Each article should be prepared in accordance with the guidance given in the “Instructions for Authors” section of their website: http://ceej.wne.uw.edu.pl/for-authors/ If you have any questions, don’t hesitate to contact Guest Editors: Anna Lovasz: plovi@uw.edu or Barbara Pertold-Gebicka: gebicka@fsv.cuni.cz or CEEJ Editorial Office: ceej@wne.uw.edu.pl

Kontribusi Kampus untuk Dunia Tanpa Nuklir

Penulis: Muhadi Sugiono
Universitas Gadjah Mada
Email: msugiono@ugm.ac.id

 

Happy Europe Day 2021

On behalf of the Indonesian Community of Europe Studies, we wish to extend our congratulations on the anniversary of Europe Day 2021.

Selamat Hari Eropa 2021.

Together we are celebrating peace and unity, as well as fight Covid-19 to recover stronger.